Masih berpegangan pada hati
Aku mencuci dosa
Dengan dhuha yang masih terbata
Masih mengikat diri pada nafas
Aku mencahayakan rupa
Yang dulu gulita
Sebab nafsu terpenjara
Tinggal bulan separo
Tinggal purnama tak sempurna
Helai-helai iman akankan merekah..
Ramadhan
Tunggu aku
Kita renangi kemenangan hakiki
Pada hati
Jumat, 20 Mei 2016
Rabu, 11 Mei 2016
Mei With Love
Alhamdulillah sudah di Mei lagi.. Gak terasa rasanya waktu berlalu begitu cepat, pas sadar eh sudah 2016 ajahh..
Mei adalah salah satu bulan spesial yang selalu ditunggu2 kedatangannya di keluarga kami selain Bulan Ramadhan. Sebab spesialnya bulan Mei itu, karena bulan lahir saya, bulan lahir Abi tercinta, dan bulan lahir Anak pertama kami alm Ahmad Zhafran Al-Fathin.
Mei tahun ini juga bertambah keistimewaannya, karena...
Mulai masuk kelas matrikulasi IIP batch#1.
Sekitar 150 ibu2 koordinator, fasilitator dan pengurus rumbel IIP
se-Indonesia berkumpul dalam 1 grup, dalam rangka belajar untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan diri, baik sebagai individu, sebagai istri, dan sebagai Ibu tentu saja.
Sebenarnya agak2 gimanaa gituuu.. melihat kesungguhan dan kemampuan para ibu2 IIP se-Indonesia yang bagi saya waahh kereennn...😍😍😍
Tapi dalam proses belajar, gak boleh galau, malu, takut, apalagi minder...
Semuanya dilibas.. Demi sebuah ilmu..👍👍👍
Mari belajar dimanapun, kapanpun, dan kepada siapapun..
Tugas 1 Matrikulasi Batch#1
Checklist indikator profesionalisme perempuan
A. Sebagai Individu
* Mengutamakan Ibadah dalam kondisi apapun.
* Memberikan hak tubuh
* Memiliki me time yang bermanfaat.
B. Sebagai Istri
* Taat dan Qana'ah terhadap suami.
* Memahami kondisi dan kebutuhan suami.
C. Sebagai Ibu
* Menjadi qudwah bagi anak.
* Menjadi fasilitator belajar anak.
* Menjadi ibu multitasking.
Tambahan penting..;)
* Membatasi penggunaan gadget di hadapan anak2.
Mei adalah salah satu bulan spesial yang selalu ditunggu2 kedatangannya di keluarga kami selain Bulan Ramadhan. Sebab spesialnya bulan Mei itu, karena bulan lahir saya, bulan lahir Abi tercinta, dan bulan lahir Anak pertama kami alm Ahmad Zhafran Al-Fathin.
Mei tahun ini juga bertambah keistimewaannya, karena...
Mulai masuk kelas matrikulasi IIP batch#1.
Sekitar 150 ibu2 koordinator, fasilitator dan pengurus rumbel IIP
se-Indonesia berkumpul dalam 1 grup, dalam rangka belajar untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan diri, baik sebagai individu, sebagai istri, dan sebagai Ibu tentu saja.
Sebenarnya agak2 gimanaa gituuu.. melihat kesungguhan dan kemampuan para ibu2 IIP se-Indonesia yang bagi saya waahh kereennn...😍😍😍
Tapi dalam proses belajar, gak boleh galau, malu, takut, apalagi minder...
Semuanya dilibas.. Demi sebuah ilmu..👍👍👍
Mari belajar dimanapun, kapanpun, dan kepada siapapun..
Tugas 1 Matrikulasi Batch#1
Checklist indikator profesionalisme perempuan
A. Sebagai Individu
* Mengutamakan Ibadah dalam kondisi apapun.
- - Sholat tepat waktu.
- - Rutin Shalat sunnah rawatib, Dhuha, dan Tahajjud.
- - Melaksanakan ibadah sunnah lain dengan semangat.
* Memberikan hak tubuh
- - Mampu merawat diri dan berpenampilan rapi dan sesuai syariat.
- - Mampu memilah makanan sehat yg masuk ke tubuh.
* Memiliki me time yang bermanfaat.
- - Mengalokasikan waktu minimal 2 jam untuk mengasah minat/bakat
- - Membaca buku min 1/ bulan, buat resume singkat.
- - Menulis 1 artikel dalam 1 pekan.
B. Sebagai Istri
* Taat dan Qana'ah terhadap suami.
- - Berpenampilan menarik dan wangi di hadapan suami.
- - Menyusun laporan keuangan keluarga.
- - Mengelola keuangan keluarga dengan cermat dan hemat.
* Memahami kondisi dan kebutuhan suami.
- - Melaksanakan kegiatan pillow talk minimal 2 kali sepekan
- - Menyediakan waktu khusus min 2 jam/pekan untuk suami (luluran/facial/gunting kuku).
C. Sebagai Ibu
* Menjadi qudwah bagi anak.
- - Menjaga lisan, perilaku dan pola asuh terhadap anak.
- - Menerapkan pola pendidikan dengan dasar Islam, Iman dan Ihsan.
* Menjadi fasilitator belajar anak.
- - Menyiapkan mainan, alat, dan bahan, dalam proses kegiatan bermain dan belajar.
- - Menemani anak bermain dan belajar kapanpun anak minta.
- - Mengikuti seminar parenting 1 kali/triwulan.
* Menjadi ibu multitasking.
- - Mengantar-jemput anak dalam proses pembelajaran.
- - Memastikan rumah sehat, bersih, dan nyaman bagi seluruh anggota keluarga.
- - Mengetahui ilmu dasar P3K.
- - Menyiapkan menu pekanan yang sehat dan menarik bagi keluarga.
Tambahan penting..;)
* Membatasi penggunaan gadget di hadapan anak2.
Senin, 09 Mei 2016
Aku Bukan Apa-apa
Tuhanku...
Badan ini..
Apakah sempurna ataukah cacat. Itu adalah milikmu.
Ingin kau sempurnakan, kau kurangkan, kau beri sakit, bahkan kau istirahatkan adalah hakmu. Sebab milikMu.
Umur ini..
Apakah panjang ataukah pendek.
Dipenuhi manfaat ataupun bergelimang dosa, 'dia' tetap milikMu, yg bisa distop kapan saja.
Harta ini..
Apakah berlimpah ataukah hanya sesuap nasi. Digunakan di jalan-Mu ataukah hanya untuk foya-foya, 'dia' selalu milik-Mu.
Anak-anak ini..
Apakah banyak ataukah hanya seorang. Shalih ataupun shalihah, Mereka adalah milikmu. Yang jika Engkau mau, bisa kau ambil sewaktu-waktu.
Tuhanku..
Rupanya itu semua bukan milikku,
Engkaulah pemilik segala.
Aku hanya memilikiMu
Ah tidak..
Engkaulah yg memiliki aku
Dan aku bukanlah apa-apa
Badan ini..
Apakah sempurna ataukah cacat. Itu adalah milikmu.
Ingin kau sempurnakan, kau kurangkan, kau beri sakit, bahkan kau istirahatkan adalah hakmu. Sebab milikMu.
Umur ini..
Apakah panjang ataukah pendek.
Dipenuhi manfaat ataupun bergelimang dosa, 'dia' tetap milikMu, yg bisa distop kapan saja.
Harta ini..
Apakah berlimpah ataukah hanya sesuap nasi. Digunakan di jalan-Mu ataukah hanya untuk foya-foya, 'dia' selalu milik-Mu.
Anak-anak ini..
Apakah banyak ataukah hanya seorang. Shalih ataupun shalihah, Mereka adalah milikmu. Yang jika Engkau mau, bisa kau ambil sewaktu-waktu.
Tuhanku..
Rupanya itu semua bukan milikku,
Engkaulah pemilik segala.
Aku hanya memilikiMu
Ah tidak..
Engkaulah yg memiliki aku
Dan aku bukanlah apa-apa
Kamis, 14 April 2016
My Uncle My Idol
Tulisan ini kudedikasikan kepada seorang paman saya, yang padanya sy banyak belajar dan banyak bermimpi.
Sewaktu sy masih kecil tokoh idola saya adalah kakek Zainuddin tercinta. Sosoknya yg penyabar, santun, dekat dengan kami cucu2nya tanpa mengurangi wibawa beliau.
Sy bersyukur, diberi waktu oleh Allah meski hanya sedikit, untuk mengenal beliau. Bahkan kenangan2 manis bersama beliau hingga saat ini masih segar diingatan meskipun saat itu sy baru berusia 6 atau 7 tahun. Mengupaskan mangga, menemani bermain, membersihkan kulit kacang goreng..
Ahh.. betapa kurindukan engkau kek..
Bahkan sy dan adik saya rela di bully paman2 kami yg saat itu masih SMP dan SMA, diusili, dikerjain, disuruh ini itu, sampai dibuat nangis, gak membuat kami jera untuk berkunjung ke rumah Nenek, demi untuk menanti kedatangan Kakek tercinta tiap sabtu siang.
Al Fatihah buatmu kakek..
Memasuki usia 8 tahun, tiba2 Allah memanggil kakek kami dengan sangat mendadak...
Sy merasa kehilangan idola, tapi itu tak berlangsung lama. Ada seorang uncle saya yg saat itu kuliah di Bogor kota hujan sana, karakter, sifat dan wajahnya menurun dr almarhum kakenda tercinta. Maka beralihlah kekaguman saya kepadanya.
Masuk SMP, masuk SMA, hingga kuliah, beliaulah yg menjadi role model saya. Belajar dengan tekun, agar bisa mengikuti jejaknya kuliah di tanah Jawa, belajar ke benua Amerika, hingga menuntut ilmu ke Eropa. Namun apa daya, bapak tidak mengizinkan untuk kuliah jauh.
Sy tahu, semua itu tidak dicapai dengan mudah. Perlu usaha yg keras dan doa yg tak putus.
Banyak ujian yg terhampar, cobaan yang mendera, tapi dia selalu setegar karang menghadapinya.
Sabar dan tekun kuncinya..
Kini, uncle kami itu masih berkutat dengan ujian2 hidup, cobaan2, dan kesuksesan-kesuksesan yg tetap menantinya...
Sy ikut bahagia melihat tawa lepasnya dalam foto2 yg senantiasa dikirimkan kepada kami..
Sy ikut bahagia mendengar kesuksesan demi kesuksesan yg telah diraihnya.
Saya bahagia memiliki uncle Burhanuddin..
*selamat datang kembali di Indonesia..
Setelah tur Turki, Denmark, Dubai dan Afrika Selatan..
Oleh2nya ya...
Sewaktu sy masih kecil tokoh idola saya adalah kakek Zainuddin tercinta. Sosoknya yg penyabar, santun, dekat dengan kami cucu2nya tanpa mengurangi wibawa beliau.
Sy bersyukur, diberi waktu oleh Allah meski hanya sedikit, untuk mengenal beliau. Bahkan kenangan2 manis bersama beliau hingga saat ini masih segar diingatan meskipun saat itu sy baru berusia 6 atau 7 tahun. Mengupaskan mangga, menemani bermain, membersihkan kulit kacang goreng..
Ahh.. betapa kurindukan engkau kek..
Bahkan sy dan adik saya rela di bully paman2 kami yg saat itu masih SMP dan SMA, diusili, dikerjain, disuruh ini itu, sampai dibuat nangis, gak membuat kami jera untuk berkunjung ke rumah Nenek, demi untuk menanti kedatangan Kakek tercinta tiap sabtu siang.
Al Fatihah buatmu kakek..
Memasuki usia 8 tahun, tiba2 Allah memanggil kakek kami dengan sangat mendadak...
Sy merasa kehilangan idola, tapi itu tak berlangsung lama. Ada seorang uncle saya yg saat itu kuliah di Bogor kota hujan sana, karakter, sifat dan wajahnya menurun dr almarhum kakenda tercinta. Maka beralihlah kekaguman saya kepadanya.
Masuk SMP, masuk SMA, hingga kuliah, beliaulah yg menjadi role model saya. Belajar dengan tekun, agar bisa mengikuti jejaknya kuliah di tanah Jawa, belajar ke benua Amerika, hingga menuntut ilmu ke Eropa. Namun apa daya, bapak tidak mengizinkan untuk kuliah jauh.
Sy tahu, semua itu tidak dicapai dengan mudah. Perlu usaha yg keras dan doa yg tak putus.
Banyak ujian yg terhampar, cobaan yang mendera, tapi dia selalu setegar karang menghadapinya.
Sabar dan tekun kuncinya..
Kini, uncle kami itu masih berkutat dengan ujian2 hidup, cobaan2, dan kesuksesan-kesuksesan yg tetap menantinya...
Sy ikut bahagia melihat tawa lepasnya dalam foto2 yg senantiasa dikirimkan kepada kami..
Sy ikut bahagia mendengar kesuksesan demi kesuksesan yg telah diraihnya.
Saya bahagia memiliki uncle Burhanuddin..
*selamat datang kembali di Indonesia..
Setelah tur Turki, Denmark, Dubai dan Afrika Selatan..
Oleh2nya ya...
Sedekah Sarapan
Bismillah...
Kali ini saya akan berbagi salah satu program unggulan keluarga kami, yaitu sedekah sarapan.
Awal munculnya niat ini saat memasuki tahun 2016.
Pergantian tahun merupakan momentum yang tepat untuk membuat resolusi bagi keluarga kami.
Ide ini diinspirasi oleh seorang ibu penjual nasi bungkus keliling. Ketika itu kami sekeluarga keliling kota pagi-pagi. Sambil ngobrol sepanjang jalan tentang berbagai hal, kendaraan sengaja dilambatkan. Tiba-tiba, kami melihat seorang ibu penjual nasi bungkus keliling yang menuntun sepedanya membagikan nasi bungkus kepada beberapa tukang becak yang mangkal menunggu penumpang.
Di situlah kemudian terbersit niat untuk melakukan hal yang sama. Alhamdulillah direspon positif dan antusias oleh Abi. Mulailah kami menyusun konsepnya.
Program ini kami dilakukan sekali sepekan, yaitu hari Jum'at. Kami memilih Jum'at karena hari tersebut memiliki banyak keutamaan.
Selanjutnya, kami memilih sarapan bukan makan siang atau makan malam. Bukan juga berbagi dengan uang tunai, karena kami mengganggap, sarapan adalah modal tenaga di awal waktu.
Sasarannya juga tentu sudah terseleksi, artinya orang-orang yang akan menerima adalah mereka yg berangkat pagi atau subuh dari rumahnya, melawan rasa kantuk, malas, dan sebagainya. Untuk beraktivitas atau menjalankan tugas, yang kemungkinan belum sarapan karena tugasnya pagi-pagi harus tuntas.
Setelah persiapan cukup, mulailah Jumat pertama di awal tahun 2016, kami sekeluarga bersiap.
Pertama-tama mencari penjual nasi bungkus (idealnya sih masak sendiri, tapi belum sanggup..😊). Kemudian menelusuri jalanan yang masih lengang, bertemu dan berbagi dengan petugas penyapu jalanan, tukang sampah, tukang becak, beberapa pemulung, dsb. Sambil menyampaikan kepada Aira, anak kami tentang indahnya berbagi, tentunya dengan bahasa anak-anak, meskipun dia mendengar dengan mata sayu karena masih ngantuk, semoga alam bawah sadarnya merekam dan menyimpannya..
Selain bertujuan sebagai bahan edukasi untuk anak2 kami, Sedekah Sarapan juga merupakan wujud apresiasi kami bagi siapapun yang subuh hari sudah meninggalkan rumah untuk beraktivitas atau menjalankan tugas.
Tulisan ini dibuat bukan bermaksud untuk pamer, ataupun Riya (semoga Allah menjaga kami dari sifat riya). Justru kami berharap semoga tulisan ini bisa menginspirasi agar melahirkan ide-ide kreatif atau menjadi penyemangat bagi yg ingin melakukan kebajikan.
Belajar dari kisah ibu penjual nasi bungkus tadi, beliau saja seorang penjual nasi bungkus mau berbagi dengan sesama, apalagi kita yang... (silahkan isi sendiri 😉)
Sebab ada iri/cemburu/hasad yg dibolehkan dalam agama yakni:
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” [HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816]
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ فَقَالَ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الْحَقِّ فَقَالَ رَجُلٌ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ
“Tidak boleh iri kecuali terhadap dua (jenis manusia): seseorang yang Allah ajarkan kepadanya Al Qur`an, lalu dia membacanya di sepanjang malam dan siang, lalu tetangganya mendengarnya dan berkata: ‘Seandainya aku diberikan (kemampuan membaca Al Qur`an) sebagaimana yang telah diberikan (Allah) kepada si Fulan sehingga aku dapat melakukan seperti apa yang dia lakukan.’ ; dan seseorang yang Allah berikan kepadanya harta, lalu dia menafkahkannya di dalam kebenaran, lalu ada seseorang yang berkata: ‘Seandainya aku diberikan (harta) sebagaimana yang telah diberikan (Allah) kepada si Fulan sehingga aku dapat melakukan seperti apa yang dia lakukan.” [HR Al Bukhari (5026)]
Dan sungguh, saat melihat ibu penjual nasi bungkus itu bersedekah, saya iri...
Semoga pahala kebaikan tercurah padanya..
Dan semoga kami istiqomah menjalankan program ini, dan menjadi pemberat timbangan amal kami di Yaumul Hisab kelak...
Aamiinnn...
Kali ini saya akan berbagi salah satu program unggulan keluarga kami, yaitu sedekah sarapan.
Awal munculnya niat ini saat memasuki tahun 2016.
Pergantian tahun merupakan momentum yang tepat untuk membuat resolusi bagi keluarga kami.
Ide ini diinspirasi oleh seorang ibu penjual nasi bungkus keliling. Ketika itu kami sekeluarga keliling kota pagi-pagi. Sambil ngobrol sepanjang jalan tentang berbagai hal, kendaraan sengaja dilambatkan. Tiba-tiba, kami melihat seorang ibu penjual nasi bungkus keliling yang menuntun sepedanya membagikan nasi bungkus kepada beberapa tukang becak yang mangkal menunggu penumpang.
Di situlah kemudian terbersit niat untuk melakukan hal yang sama. Alhamdulillah direspon positif dan antusias oleh Abi. Mulailah kami menyusun konsepnya.
Program ini kami dilakukan sekali sepekan, yaitu hari Jum'at. Kami memilih Jum'at karena hari tersebut memiliki banyak keutamaan.
Selanjutnya, kami memilih sarapan bukan makan siang atau makan malam. Bukan juga berbagi dengan uang tunai, karena kami mengganggap, sarapan adalah modal tenaga di awal waktu.
Sasarannya juga tentu sudah terseleksi, artinya orang-orang yang akan menerima adalah mereka yg berangkat pagi atau subuh dari rumahnya, melawan rasa kantuk, malas, dan sebagainya. Untuk beraktivitas atau menjalankan tugas, yang kemungkinan belum sarapan karena tugasnya pagi-pagi harus tuntas.
Setelah persiapan cukup, mulailah Jumat pertama di awal tahun 2016, kami sekeluarga bersiap.
Pertama-tama mencari penjual nasi bungkus (idealnya sih masak sendiri, tapi belum sanggup..😊). Kemudian menelusuri jalanan yang masih lengang, bertemu dan berbagi dengan petugas penyapu jalanan, tukang sampah, tukang becak, beberapa pemulung, dsb. Sambil menyampaikan kepada Aira, anak kami tentang indahnya berbagi, tentunya dengan bahasa anak-anak, meskipun dia mendengar dengan mata sayu karena masih ngantuk, semoga alam bawah sadarnya merekam dan menyimpannya..
Selain bertujuan sebagai bahan edukasi untuk anak2 kami, Sedekah Sarapan juga merupakan wujud apresiasi kami bagi siapapun yang subuh hari sudah meninggalkan rumah untuk beraktivitas atau menjalankan tugas.
Tulisan ini dibuat bukan bermaksud untuk pamer, ataupun Riya (semoga Allah menjaga kami dari sifat riya). Justru kami berharap semoga tulisan ini bisa menginspirasi agar melahirkan ide-ide kreatif atau menjadi penyemangat bagi yg ingin melakukan kebajikan.
Belajar dari kisah ibu penjual nasi bungkus tadi, beliau saja seorang penjual nasi bungkus mau berbagi dengan sesama, apalagi kita yang... (silahkan isi sendiri 😉)
Sebab ada iri/cemburu/hasad yg dibolehkan dalam agama yakni:
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” [HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816]
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ فَقَالَ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الْحَقِّ فَقَالَ رَجُلٌ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ
“Tidak boleh iri kecuali terhadap dua (jenis manusia): seseorang yang Allah ajarkan kepadanya Al Qur`an, lalu dia membacanya di sepanjang malam dan siang, lalu tetangganya mendengarnya dan berkata: ‘Seandainya aku diberikan (kemampuan membaca Al Qur`an) sebagaimana yang telah diberikan (Allah) kepada si Fulan sehingga aku dapat melakukan seperti apa yang dia lakukan.’ ; dan seseorang yang Allah berikan kepadanya harta, lalu dia menafkahkannya di dalam kebenaran, lalu ada seseorang yang berkata: ‘Seandainya aku diberikan (harta) sebagaimana yang telah diberikan (Allah) kepada si Fulan sehingga aku dapat melakukan seperti apa yang dia lakukan.” [HR Al Bukhari (5026)]
Dan sungguh, saat melihat ibu penjual nasi bungkus itu bersedekah, saya iri...
Semoga pahala kebaikan tercurah padanya..
Dan semoga kami istiqomah menjalankan program ini, dan menjadi pemberat timbangan amal kami di Yaumul Hisab kelak...
Aamiinnn...
Selasa, 29 Maret 2016
Saat No TV di Rumah
Saat kami pindah rumah sekitar bulan April tahunlalu, kami sengaja tdk membawa serta TV. Alasannya kami mencoba menerapkan program no TV di rumah.
Setelah 3 bulan menjalani kehidupan tanpa televisi alhamdulillah semuanya oke-oke saja. Meskipun awalnya terasa sunyi dan kadang bengong plus bingung mau ngapain. Tapi ternyata situasi itu menjadikan saya untuk berpikir kreatif dan inovatif. Dan dengan bantuan internet tentu saja, akhirnya muncul banyak ide.
Apa yang harus kami lakukan hari itu agar kegiatan kami bermanfaat. setiap hari kami menjadwalkan untuk membuat prakarya meskipun sederhana. Mulai dari mewarnai, menggunting tempel, mencetak jari, kolase, membuat plastisin, cooking, berkebun, sampai membuat rumah kardus. Alhamdulillah anak2 khususnya Aira sangat menikmati hari2nya.
Manfaat positif ini juga sangat berpengaruh pada saya. Waktu banyak digunakan untuk hal2 yang bermanfaat, tdk nonton mulu..
Sebab saya adalah penggemar film. Bahkan mendekati maniak film. Mulai dari film drama, action, kolosal, detectif, kartun, komedi, India, China, Jepang, Singapura, Thailand, sampai drama korea saya suka. Saking sukanya menonton, saat saya masih di bangku SMA, saya sering nonton tv melalui lubang kunci pintu.. 😅😅.
Kala itu, di rumah kami peraturannya batas nonton bagi kami cuma sampai jam 10. Padahal film2 bagus baru diputar jam 9 atau jam 10 malam. Alhasil jika tiba waktu tidur kami semua masuk kamar. Tapi sy tdk tidur, posisi pintu kamar yang pas menghadap ke televisi sangat manguntungkan. Jadilah sy lanjutkan nonton melalui lubang kunci... itupun klo chanel tvnya gak diganti sm bapak.. 😄😄
Satu2nya jenis film yg sy tidak sukai adalah film horor (soalnya kalo nonton sendirian syereemm...)😱🙈.
Ahh, itu dulu..😊
Semoga kedepan kami tetap bisa mempertahankan suasana kondusif ini..
Setelah 3 bulan menjalani kehidupan tanpa televisi alhamdulillah semuanya oke-oke saja. Meskipun awalnya terasa sunyi dan kadang bengong plus bingung mau ngapain. Tapi ternyata situasi itu menjadikan saya untuk berpikir kreatif dan inovatif. Dan dengan bantuan internet tentu saja, akhirnya muncul banyak ide.
Apa yang harus kami lakukan hari itu agar kegiatan kami bermanfaat. setiap hari kami menjadwalkan untuk membuat prakarya meskipun sederhana. Mulai dari mewarnai, menggunting tempel, mencetak jari, kolase, membuat plastisin, cooking, berkebun, sampai membuat rumah kardus. Alhamdulillah anak2 khususnya Aira sangat menikmati hari2nya.
Manfaat positif ini juga sangat berpengaruh pada saya. Waktu banyak digunakan untuk hal2 yang bermanfaat, tdk nonton mulu..
Sebab saya adalah penggemar film. Bahkan mendekati maniak film. Mulai dari film drama, action, kolosal, detectif, kartun, komedi, India, China, Jepang, Singapura, Thailand, sampai drama korea saya suka. Saking sukanya menonton, saat saya masih di bangku SMA, saya sering nonton tv melalui lubang kunci pintu.. 😅😅.
Kala itu, di rumah kami peraturannya batas nonton bagi kami cuma sampai jam 10. Padahal film2 bagus baru diputar jam 9 atau jam 10 malam. Alhasil jika tiba waktu tidur kami semua masuk kamar. Tapi sy tdk tidur, posisi pintu kamar yang pas menghadap ke televisi sangat manguntungkan. Jadilah sy lanjutkan nonton melalui lubang kunci... itupun klo chanel tvnya gak diganti sm bapak.. 😄😄
Satu2nya jenis film yg sy tidak sukai adalah film horor (soalnya kalo nonton sendirian syereemm...)😱🙈.
Ahh, itu dulu..😊
Semoga kedepan kami tetap bisa mempertahankan suasana kondusif ini..
Celengan Surga
Jauh sebelum menikah, sy pernah membaca sebuah artikel tentang tabungan akhirat, dari sana akhirnya muncul ide utk membuat celengan surga.
Celengan surga adalah celengan yg dibuat untuk seluruh anggota keluarga, ditempatkan di tempat yg strategis (mis di ruang keluarga) agar memudahkan bagi siapapun untuk memasukkan celengannya, mudah dijangkau (tdk tersembunyi dan susah diraih bagi anak2), tak mencolok/mengundang tangan jahil (jd bisa sedikit di modifikasi bentuknya, mis vas bunga), dan dibuka setahun sekali atau bila sudah penuh. Peruntukannya tentu untuk mendapatkan pahala, jd bisa disumbangkan, dibelikan sapi/kambing buat Qurban, buka puasa bersama, infak untuk anak-anak yatim, naik haji, dll.
Sesuai namanya, celengan tersebut diharapkan bisa mengantarkan kami semua ke SurgaNya. Aamiinn..
Itu banyangan saya saat itu.
Beberapa tahun setelah menikah, sy mulai merealisasikan mimpi saya itu. Namun ternyata impian tak seindah kenyataan..
Beberapa kali celengan surga kami dijebol bukan untuk 'Surga'.. Apalagi saat awal2 membina keluarga, diuji dengan anak shalih dengan atresia bilier, renovasi rumah sederhana, dan melunasi hutang.
Dan sekarang, sy merintis kembali impian itu membuat celengan surga. Semoga tak ada lagi hambatan2 sampai saatnya di 'panen'.
Aamiin...
Langganan:
Postingan (Atom)
