Waahhh.. Masuk kelas matrikulasi lagi..
Dan berkejaran dengan pelaksanaan seminar parenting teh Kiki Barkiyah di Makassar.
Ditengah hiruk pikuk kesibukan dan kelelahan. Sy berazzam akan mengerjakan tugas tepat waktu..
Dan Alhamdulillah selesai juga..
📚NICE HOMEWORK #1📚
ADAB MENUNTUT ILMU
Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional Batch #2, kini sampailah kita pada tahap menguatkan ilmu yang kita dapatkan kemarin, dalam bentuk tugas.
Tugas ini kita namakan NICE HOMEWORK dan disingkat menjadi NHW.
Dalam materi "ADAB MENUNTUT ILMU" kali ini, NHW nya adalah sbb:
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
>> Jurusan ilmu yg akan dan selalu membuat saya bahagia adalah MENULIS, dan berupaya sebaik mungkin untuk belajar dalam dunia kepenulisan
2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
>> Karena dengan menulis kita bisa mengikat ilmu, dan membagi kepada yang membutuhkan, agar lebih banyak manfaat bagi sesama.
3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
>> 1. Mengikuti kelas menulis online.
2. Konsisten menulis 3 kali sehari meski hanya sebuah status, dan menulis 1 artikel 1 kali perpekan.
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
>>
Adab diri sendiri
* Bergegas dan menutamakan waktu2 menuntut ilmu.
* Menuntaskan sebuah ilmu dng cara mengulang2 dan rutin berlatih.
Adab terhadap guru/sumber guru
* Meminta izin kepada guru/Narasumber sebelum meshare ilmu.
*Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia*
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
Minggu, 23 Oktober 2016
Sabtu, 15 Oktober 2016
Toilet Training Adek Rofi
Pekan lalu salah satu tahap perkembangan dan kemandirian Rofi tercapai, mengenai Toilet Training.
Alhamdulillah berhasil di hari ke5.
Diusianya yang ke-3 tahun baru bisa sukses melepaskan pospak. Mungkin bagi anak2 lain agak telat, tapi bagi kami khususnya Asrofi yg mengalami speech delay, ini adalah salah satu pencapaian besar.
Rata-rata anak lainnya bisa lulus TT usia 2 tahunan, bahkan sepupu Rofi dan sepupu sy yg masih baby, bisa lulus TT diusia kurang dr 2 tahun.
Namun, saya gak begitu terbebani mengenai 'keterlambatannya' ini. Sy hanya merasa bahwa Rofi belum siap secara fisik dan psikis. Jika dia merasa sudah siap tentu akan menunjukkan ciri2nya dan akan mengalaminya dengan proses yg menyenangkan dan bebas drama.
Sebenarnya sejak usia 2 tahunan kami sudah beberapa kali mencoba namun belum berhasil.
Karena Rofi yg belum siap (belum mampu mengenali dan mengontrol keinginan BAK dan BAB, belum bisa menyampaikan secara lisan) dan saya yg masih malas dan terlanjur nyaman (tapi gak bersahabat di dompet) dengan popok sekali pakai itu.
Akhirnya belajar kembali, baca2 artikel terkait toilet training, sharing dengan ibu2 yg juga punya masalah yg sama bahwa jika si Anak sudah siap maka proses itu akan berjalan dengan lancar.
Ya.. Kesiapan, ini sangat penting. Bukan hanya si anak yg harus siap. Tapi seluruh isi rumah dan kondisi rumah juga harus siap.
Rupanya selama ini kami -khususnya saya dan Rofi- belum siap mengalami proses TT itu yg biasanya melelahkan (bolak-balik wc, ngepel lantai, ganti sprei, dll).
Rofi kami anggap siap saat sudah bisa mengucapkan keinginannya untuk BAK dan BAB, itu salah satu ciri2nya. Sedangkan saya sebagai ibunya juga harus siap, siap mengantar dan menemani saat bak dan bab, siap melap pipis yg terlanjur keluar karena telat ke wc, siap menganti pakaian saat terkena najis secara tidak sengaja, siap ngepel lantai setiap saat, siap nyuci baju yg cepat sekali menumpuk bak gunung dan sederet kesiapan lainnya yg mengikuti proses TT ini.
Begitupula si kk Aira dan Abi, mereka juga sy siapkan untuk ikut aktif dalam proses TT si adek. Mereka harus menyiapkan diri untuk bekerjasama saling bahu membahu meluluskan program ini.
Harus siap membantu adek membersihkan diri, membantu mengambilkan celana dan menggantinya, membantu mengepel lantai, bahkan hal2 ringan seperti mengingatkan si adek saat muncul tanda2nya kebelet pipis atau mau BAB.
Alhamdulillah.. Proses yg saya pikir akan berlangsung lama dan melelahkan rupanya berjalan lancar dan singkat..
Hanya sekitar 3 hari saja kegiatan ngepel, ganti celana, angkat2 rofi ke wc, berlangsung. Dan selama 3 hari itu sy selalu sounding "Dek, kalau mau pipis bilang ya, kita pipisnya di wc..". 2 hari berikutnya si Adek sudah bisa menyampaikan keinginannya
"Mi, pipi.." sambil memelorotkan celananya.
"Mi, Ee.." katanya jika ingin pup.
Dan hari ke 6 sukses..
Saat ingin pipis langsung buka celana, ke wc, bersihkan diri dengan menyiram perutnya ke bawah, dan keluar dari wc dan berucap "Mi, udah.."
"Wahh.. Alhamdulillah, adek Rofi pintar, sudah besar, sudah bisa pipis sendiri, sini ummi peluk.."
Alhamdulillah berhasil di hari ke5.
Diusianya yang ke-3 tahun baru bisa sukses melepaskan pospak. Mungkin bagi anak2 lain agak telat, tapi bagi kami khususnya Asrofi yg mengalami speech delay, ini adalah salah satu pencapaian besar.
Rata-rata anak lainnya bisa lulus TT usia 2 tahunan, bahkan sepupu Rofi dan sepupu sy yg masih baby, bisa lulus TT diusia kurang dr 2 tahun.
Namun, saya gak begitu terbebani mengenai 'keterlambatannya' ini. Sy hanya merasa bahwa Rofi belum siap secara fisik dan psikis. Jika dia merasa sudah siap tentu akan menunjukkan ciri2nya dan akan mengalaminya dengan proses yg menyenangkan dan bebas drama.
Sebenarnya sejak usia 2 tahunan kami sudah beberapa kali mencoba namun belum berhasil.
Karena Rofi yg belum siap (belum mampu mengenali dan mengontrol keinginan BAK dan BAB, belum bisa menyampaikan secara lisan) dan saya yg masih malas dan terlanjur nyaman (tapi gak bersahabat di dompet) dengan popok sekali pakai itu.
Akhirnya belajar kembali, baca2 artikel terkait toilet training, sharing dengan ibu2 yg juga punya masalah yg sama bahwa jika si Anak sudah siap maka proses itu akan berjalan dengan lancar.
Ya.. Kesiapan, ini sangat penting. Bukan hanya si anak yg harus siap. Tapi seluruh isi rumah dan kondisi rumah juga harus siap.
Rupanya selama ini kami -khususnya saya dan Rofi- belum siap mengalami proses TT itu yg biasanya melelahkan (bolak-balik wc, ngepel lantai, ganti sprei, dll).
Rofi kami anggap siap saat sudah bisa mengucapkan keinginannya untuk BAK dan BAB, itu salah satu ciri2nya. Sedangkan saya sebagai ibunya juga harus siap, siap mengantar dan menemani saat bak dan bab, siap melap pipis yg terlanjur keluar karena telat ke wc, siap menganti pakaian saat terkena najis secara tidak sengaja, siap ngepel lantai setiap saat, siap nyuci baju yg cepat sekali menumpuk bak gunung dan sederet kesiapan lainnya yg mengikuti proses TT ini.
Begitupula si kk Aira dan Abi, mereka juga sy siapkan untuk ikut aktif dalam proses TT si adek. Mereka harus menyiapkan diri untuk bekerjasama saling bahu membahu meluluskan program ini.
Harus siap membantu adek membersihkan diri, membantu mengambilkan celana dan menggantinya, membantu mengepel lantai, bahkan hal2 ringan seperti mengingatkan si adek saat muncul tanda2nya kebelet pipis atau mau BAB.
Alhamdulillah.. Proses yg saya pikir akan berlangsung lama dan melelahkan rupanya berjalan lancar dan singkat..
Hanya sekitar 3 hari saja kegiatan ngepel, ganti celana, angkat2 rofi ke wc, berlangsung. Dan selama 3 hari itu sy selalu sounding "Dek, kalau mau pipis bilang ya, kita pipisnya di wc..". 2 hari berikutnya si Adek sudah bisa menyampaikan keinginannya
"Mi, pipi.." sambil memelorotkan celananya.
"Mi, Ee.." katanya jika ingin pup.
Dan hari ke 6 sukses..
Saat ingin pipis langsung buka celana, ke wc, bersihkan diri dengan menyiram perutnya ke bawah, dan keluar dari wc dan berucap "Mi, udah.."
"Wahh.. Alhamdulillah, adek Rofi pintar, sudah besar, sudah bisa pipis sendiri, sini ummi peluk.."
Selasa, 30 Agustus 2016
Siapa yang Boleh Membalas?
Pagi ini, saat sy menikmati sarapan, kk Aira bertanya sambil ngadem depan kulkas
"Mi, kalau jadi kakak harus selalu mengalah kah, gak boleh membalas?"
Saya langsung tertegun sejenak..
Lalu saya jawab
"Semua gak ada yg boleh membalas, kakak, adik, ummi, abi, sepupu."
"Begitu juga dengan mengalah, bukan berarti kalah.. tetapi menghindari bertengkar lebih baik." Lanjut sy kemudian.
Dia kemudian terdiam sambil senyum2 melirik kearah sy.
Sepertinya ini warning buat kami sebagai orangtua.. Beberapa waktu belakangan ini, memang saat kk Ai dan adek Rofi bermain, kadang si Adek refleks memukul, mungkin hanya sebatas utk seru2an, atau sekedar main2 saja, dan kk Ai yg biasanya merasa kesakitan kadang gemes mau membalas..
Dan saat situasi seperti itu, kami spontan mengingatkan si kk,
"Kk, jangan dibalas kk..."
Atau
"Kk, mengalah ya kak, adek masih kecil, belum tau kalau memukul itu sakit."
Dan sangat jarang kami menasihati si Adek
"Adek, kalau adek pukul kakak, kakak kesakitan"
Atau
"Adek, kakak di sayang ya Nak"
Saya lama merenung dan akhirnya menyadari, rupanya perlakuan kami terhadap mereka akhir2 ini tidak adil. Kami justru mengingatkan 'sang Korban' yang lebih besar, bukannya malah menegur 'si Pelaku' yang masih kecil.
Kami lupa, bahwa menjadi seorang kakak bukan berarti harus selalu mengalah pada sang adik hanya karena adiknya lebih kecil.
Kami lalai bahwa ternyata sang adiklah yang harus diberi pengertian dengan bahasa yg dimengertinya bahwa mereka seharusnya saling menyayangi, bukannya menyakiti.
Ahh.. maafkan kami nak..
Rupanya masih sering terjebak pada pola pengasuhan masa lalu yg pernah kami alami.
Rupanya sebanyak apapun ilmu parenting yang kami serap, pengalaman masa lalu masih sering menelusup diam2 keluar dari persembunyiannya.
Tapi menjadi orangtua adalah proses belajar, belajar dari masa lalu, belajar dari pengalaman, belajar dari lingkungan, belajar dan terus belajar.
Temani kami nak, dalam perjalanan belajar ini
"Mi, kalau jadi kakak harus selalu mengalah kah, gak boleh membalas?"
Saya langsung tertegun sejenak..
Lalu saya jawab
"Semua gak ada yg boleh membalas, kakak, adik, ummi, abi, sepupu."
"Begitu juga dengan mengalah, bukan berarti kalah.. tetapi menghindari bertengkar lebih baik." Lanjut sy kemudian.
Dia kemudian terdiam sambil senyum2 melirik kearah sy.
Sepertinya ini warning buat kami sebagai orangtua.. Beberapa waktu belakangan ini, memang saat kk Ai dan adek Rofi bermain, kadang si Adek refleks memukul, mungkin hanya sebatas utk seru2an, atau sekedar main2 saja, dan kk Ai yg biasanya merasa kesakitan kadang gemes mau membalas..
Dan saat situasi seperti itu, kami spontan mengingatkan si kk,
"Kk, jangan dibalas kk..."
Atau
"Kk, mengalah ya kak, adek masih kecil, belum tau kalau memukul itu sakit."
Dan sangat jarang kami menasihati si Adek
"Adek, kalau adek pukul kakak, kakak kesakitan"
Atau
"Adek, kakak di sayang ya Nak"
Saya lama merenung dan akhirnya menyadari, rupanya perlakuan kami terhadap mereka akhir2 ini tidak adil. Kami justru mengingatkan 'sang Korban' yang lebih besar, bukannya malah menegur 'si Pelaku' yang masih kecil.
Kami lupa, bahwa menjadi seorang kakak bukan berarti harus selalu mengalah pada sang adik hanya karena adiknya lebih kecil.
Kami lalai bahwa ternyata sang adiklah yang harus diberi pengertian dengan bahasa yg dimengertinya bahwa mereka seharusnya saling menyayangi, bukannya menyakiti.
Ahh.. maafkan kami nak..
Rupanya masih sering terjebak pada pola pengasuhan masa lalu yg pernah kami alami.
Rupanya sebanyak apapun ilmu parenting yang kami serap, pengalaman masa lalu masih sering menelusup diam2 keluar dari persembunyiannya.
Tapi menjadi orangtua adalah proses belajar, belajar dari masa lalu, belajar dari pengalaman, belajar dari lingkungan, belajar dan terus belajar.
Temani kami nak, dalam perjalanan belajar ini
Minggu, 28 Agustus 2016
Mensyukuri Nikmat Sehat
Pergilah ke Rumah Sakit untuk mensyukuri nikmat sehat.
Sungguh pernyataan tersebut sangat benar adanya..
Terkadang kita lupa bahwa kesehatan adalah harta yg tak ternilai. Lalu tanpa sadar (atau pura2 gak sadar) merecoki tubuh dengan berbagai makanan enak tapi tak sehat, makanan instan yang kaya pengawet, pewarna, pemanis, dan penguat rasa. Menerapkan pola hidup tidak sehat, tidur larut malam, malas olahraga, memelihara pikiran negatif. Belum lagi lingkungan yang minim udara bersih, air bersih, dan berbagai kebersihan lainnya semakin memperparah tingkat kerusakan sel2 tubuh yang sedianya harus dijaga dan dirawat dengan baik.
Kesadaran biasanya datang saat penyakit mulai bertamu tanpa permisi. Tiba2 kita sadar, bahwa perlakuan yg tidak sehat terhadap tubuh kita akhirnya memicu sel2 tubuh untuk berkembang secara brutal dan akhirnya jadilah kanker, asam urat, kolesterol, diabetes, tumor, dsb.
Seperti sore ini, saat melakukan pemeriksaan di sebuah RS bagian Bedah Onkologi, tiba2 kesyukuran merasuk dalam diri ini.. Sebelumnya berpikir, aduh, sakit sy apa nih, sepertinya berat.
Ternyata diluar sana masih banyak yang memiliki penyakit yg jauh lebih parah dari saya, selayaknya sy bersyukur.. Masih bisa beraktifitas normal, menikmati hidup, menuangkan kreatifitas dan ide2, menikmati keindahan dan kerepotan menjadi ibu.
Kesadaran kemudian muncul belakangan, bahwa ternyata selama ini pola makan dan pola hidup jauh dr ideal. Terlalu lena dan lalai dengan iklan2 dan kemudahan2 yg mengikutinya (instan).
Jadi mumpung masih ada kesempatan, berusaha dengan segala daya dan upaya, memperbaiki pola hidup, pola makan, dan pola pikir.
Dan semampunya back to nature..
(Awal Maret 2016)
Cinta Pertama
Jika ada yg bertanya padaku tentang cinta pertama, maka akan sy jawab "Buku".
Jatuh cinta pada buku2 fiksi diusia SD meskipun secara latar belakang keluarga sy jauh dari suasana suka buku dan suka baca.
Bahkan terkadang ditegur, saat makan sambil baca, saat jaga padi sambil baca (sampai2 lengah dan terkadang melewatkan 1-2 ekor ayam menikmati padi dengan santainya..:)), begadang sampe tengah malam karena baca buku yg belum tuntas.
Cinta pertama itu pulalah yg membuat saya melakukan kekhilafan besar semasa SD, mencuri sebuah buku fiksi, yg belum habis saya baca saat materi pengayaan disekolah..
Ssttt jangan ditiru!
Ahh.. Cukuplah berkisah tentang cinta pertama. Sebab kini, cinta itu ternyata semakin bersemi, ditumbuhi bunga2 cantik nan wangi.
Dan merebak menyebar mengantarkan wangi..
Setelah bertahun lampau, melakoni peran di muka bumi, menjadi istri, menjadi ibu, tergabung dalam komunitas IIP yang banyak sekali membentuk dan mengarahkan pola pikir, dan akhirnya tenggelam dalam asyiknya suasana kelas menulis yang belum cukup sebulan usianya, bisa mengobati kerinduan pada buku..
Semoga salah satu mimpi besar, bisa terealisasi di kelas ini.
Menerbitkan buku..
Bukan semata karena cinta..
Bukan semata karena mimpi..
Bukan semata sebagai bukti diri..
Atau sebagai jejak langkah..
Tetapi, agar bisa manfaat bagi sesama..
Jatuh cinta pada buku2 fiksi diusia SD meskipun secara latar belakang keluarga sy jauh dari suasana suka buku dan suka baca.
Bahkan terkadang ditegur, saat makan sambil baca, saat jaga padi sambil baca (sampai2 lengah dan terkadang melewatkan 1-2 ekor ayam menikmati padi dengan santainya..:)), begadang sampe tengah malam karena baca buku yg belum tuntas.
Cinta pertama itu pulalah yg membuat saya melakukan kekhilafan besar semasa SD, mencuri sebuah buku fiksi, yg belum habis saya baca saat materi pengayaan disekolah..
Ssttt jangan ditiru!
Ahh.. Cukuplah berkisah tentang cinta pertama. Sebab kini, cinta itu ternyata semakin bersemi, ditumbuhi bunga2 cantik nan wangi.
Dan merebak menyebar mengantarkan wangi..
Setelah bertahun lampau, melakoni peran di muka bumi, menjadi istri, menjadi ibu, tergabung dalam komunitas IIP yang banyak sekali membentuk dan mengarahkan pola pikir, dan akhirnya tenggelam dalam asyiknya suasana kelas menulis yang belum cukup sebulan usianya, bisa mengobati kerinduan pada buku..
Semoga salah satu mimpi besar, bisa terealisasi di kelas ini.
Menerbitkan buku..
Bukan semata karena cinta..
Bukan semata karena mimpi..
Bukan semata sebagai bukti diri..
Atau sebagai jejak langkah..
Tetapi, agar bisa manfaat bagi sesama..
Minggu, 24 Juli 2016
Hari Pertama Masuk Sekolah
Senin pekan lalu adalah hari pertama kk Aira merasakan nuansa sekolah formal, dengan seragam, sekolah, ustadzah dan teman2 baru.
Sebelumnya pernah merasakan tk di sebuah rumah sekolah selama setahun dan kemudian meminta untuk belajar dirumah.
Kami sebagai orangtua menyadari betul bahwa Hari Pertama Masuk Sekolah adalah momen spesial bagi anak2. Hari dimana dia memasuki lingkungan baru, rutinitas baru, orang2 baru, yg akan membersamai hidupnya sekitar 6 tahun -jika dia tdk memilih utk homeschooling kembali-.
Maka sudah sepantasnya kami mendampingi, mensupport, memotivasi, dan memberikan kesan yg indah dan mendalam, tentang suasana sekolah di hari pertama
Kami memutuskan untuk kembali ke rumah lebih cepat, setelah lebaran di kampung halaman. Meskipun hati masih belum puas bersilaturrahim dan bercengkerama dengan keluarga besar. Kembali ke rumah lebih cepat agar bisa menyiapkan keperluan kk Ai masuk sekolah dan agar hari pertama nanti berkesan baginya.
Namun pagi yg cerah ceria itu pecah oleh tangis Adrof.. Karena persoalan sepele tantrumnya kumat, dan kami sekeluarga yg harusnya bergegas pagi itu menjadi terlambat.
Sepertinya si adek sedikit cemburu, melihat kami bersibuk ria membantu kk Aira menyiapkan keperluan sekolahnya.
Sesampai di sekolah, sy mengantarkan kk Ai masuk kelas. Terdengar instruksi2 khas sekolahan dalam bentuk nyanyian.. "Bersiap, tangannya di lipat, beri salam.."
Setelah mengantar kk masuk kelas, kami menuju ke ruang pertemuan ortu.
Alhamdulillah hr itu berjalan lancar, setelah pulang sekolahpun kami evaluasi kesan2nya di hari pertama sekolah. Aira suka dan senang sekali.
Selamat bersekolah nak.. Ingat sekolah hanyalah sarana yg membantu untuk belajar. Yang paling penting dan utama adalah BELAJAR. Jadikanlah belajar menjadi ciri hidupmu. Dimanapun dan kapanpun.
#belajarsepanjanghayat
Senin, 11 Juli 2016
Hari Pertama Kk Aira Sekolah
Senin kemarin hari pertama kk Aira merasakan nuansa sekolah formal, dengan seragam, sekolah, ustadzah dan teman2 baru.
Sebelumnya pernah merasakan tk di sebuah rumah sekolah selama setahun dan kemudian meminta untuk belajar dirumah.
Kami sebagai orangtua menyadari betul bahwa Hari Pertama Masuk Sekolah adalah momen spesial bagi anak2. Hari dimana dia memasuki lingkungan baru, rutinitas baru, orang2 baru, yg akan membersamai hidupnya sekitar 6 tahun -jika dia tdk memilih utk homeschooling kembali-.
Kami memutuskan untuk kembali ke rumah lebih cepat, setelah lebaran di kampung halaman. Meskipun hati masih belum puas bersilaturrahim dan bercengkerama dengan keluarga besar. Kembali ke rumah lebih cepat agar bisa menyiapkan keperluan kk Ai masuk sekolah dan agar hari pertama nanti berkesan baginya.
Namun pagi yg cerah ceria itu pecah oleh tangis Adrof.. Karena persoalan sepele tantrumnya kumat, dan kami sekeluarga yg harusnya bergegas pagi itu menjadi terlambat.
Sesampai di sekolah, sy mengantarkan kk Ai masuk kelas. Terdengar instruksi2 khas sekolahan dalam bentuk nyanyian.. "Bersiap, tangannya di lipat, beri salam.."
Setelah mengantar kk masuk kelas, kami menuju ke ruang pertemuan ortu.
Alhamdulillah hr itu berjalan lancar, setelah pulang sekolahpun kami evaluasi kesan2nya di hari pertama sekolah. Aira suka dan senang sekali.
Selamat bersekolah nak.. Ingat sekolah hanyalah sarana yg membantu untuk belajar. Yang paling penting dan utama adalah BELAJAR. Jadikanlah belajar menjadi ciri hidupmu. Dimanapun dan kapanpun.
#belajarsepanjanghayat
Sebelumnya pernah merasakan tk di sebuah rumah sekolah selama setahun dan kemudian meminta untuk belajar dirumah.
Kami sebagai orangtua menyadari betul bahwa Hari Pertama Masuk Sekolah adalah momen spesial bagi anak2. Hari dimana dia memasuki lingkungan baru, rutinitas baru, orang2 baru, yg akan membersamai hidupnya sekitar 6 tahun -jika dia tdk memilih utk homeschooling kembali-.
Kami memutuskan untuk kembali ke rumah lebih cepat, setelah lebaran di kampung halaman. Meskipun hati masih belum puas bersilaturrahim dan bercengkerama dengan keluarga besar. Kembali ke rumah lebih cepat agar bisa menyiapkan keperluan kk Ai masuk sekolah dan agar hari pertama nanti berkesan baginya.
Namun pagi yg cerah ceria itu pecah oleh tangis Adrof.. Karena persoalan sepele tantrumnya kumat, dan kami sekeluarga yg harusnya bergegas pagi itu menjadi terlambat.
Sesampai di sekolah, sy mengantarkan kk Ai masuk kelas. Terdengar instruksi2 khas sekolahan dalam bentuk nyanyian.. "Bersiap, tangannya di lipat, beri salam.."
Setelah mengantar kk masuk kelas, kami menuju ke ruang pertemuan ortu.
Alhamdulillah hr itu berjalan lancar, setelah pulang sekolahpun kami evaluasi kesan2nya di hari pertama sekolah. Aira suka dan senang sekali.
Selamat bersekolah nak.. Ingat sekolah hanyalah sarana yg membantu untuk belajar. Yang paling penting dan utama adalah BELAJAR. Jadikanlah belajar menjadi ciri hidupmu. Dimanapun dan kapanpun.
#belajarsepanjanghayat
Langganan:
Postingan (Atom)