Akhirnya kami pindah juga ke mobil yg mengangkut teh Kiky dan keluarga. Yeaayyy..
Pak Adit dan Fatih duduk di depan.
Saya yg memangku Rofi, Umm Lily, dan Teh Kiky duduk di bangku tengah. Dan di belakang berkumpul anak2 teh Kiky dan 2 anak umm Lily.
Rupanya kelas belajar sudah mulai, materi kali ini tentang 'Butterfly'.
Teh Kiky masih sibuk membacakan materi dari buku yg memang sudah disiapkan dari rumah. Namun rupanya anak2 Teh Kiky, dan anak Umm Lily masih gaduh dan ngobrol.
"Ya sudah, kalau masih gaduh dan belum siap masuk kelas, ummi kasih waktu ya.., mau berapa menit istirahatnya?" tanya teh kiky.
"10 menit sahut suara dr belakang"
" Oke 10 menit ya, sebentar ummi akan masuk kelas lagi kalau waktu istirahatnya habis." tegas Teh Kiky.
Saat istirahat itu digunakan teh Kiky utk ngobrol dengan kami, bahkan beliau sempat menanyakan Aira, "Kenapa gak ikut, sekolah ya.., deket gak sekolahannya dr sini, kita jemput yuk, minta izin sama gurunya buat sehari, biar bisa belajar sama2.."
Wahh so sweet banget deh..
10 menitpun berlalu..
"Ya, sudah 10 menit ya, ummi masuk kelas lagi ya.."
Baca bukunya pun lanjut lagi.
Saat membahas mengenai sayap kupu2, teh kiky bertanya
"Jika sayapnya lepas apa yang akan terjadi?"
Faruq menyahut "it's die".
"Mengapa kupu2nya bisa mati?" lanjut pertanyaan lagi.
"Karena gak bisa terbang" kali ini Shiddiq yg menjawab.
"Kalau gak bisa terbang bagaimana?"
"Gak bisa mencari makanan." jawab lagi suara dari belakang.
Sy sudah lupa siapa yg menjawab.. hihihi
Sy perhatikan, tiap 1 paragraf ada kuis/pertanyaan yg dilemparkan ke Shofiyah, Shidiq, dan Faruq. Disesuaikan dng tingkat kesulitan soal tersebut.
Jadi pertanyaan digali terus apa apa saja yg berkaitan dengan materi, dan melatih anak2 agar terus berpikir dan mencari jawabannya.
Dan sementara mereka belajar, aa Ali sibuk memurojaah hafalan qurannya, meskipun sesekali diselingi dng bermain.
Jadi sambil anak2 Teh Kiki bermain, tetap diberi ilmu dan dievaluasi apakah sudah paham atau belum, dengan memberikan pertanyaan2 seputar materi yg telah dibacakan.
Jika ada yg diberi pertanyaan dan belum mampu menjawab maka akan diberikan waktu untuk mencari jawabannya di buku, kemudian kembali ditanyakan. Jika betul, materi lanjut lagi.
Seperti saat Shofiyyah ditanya "Shofi, bagaimana membedakan kupu2 jantan dan betina?
"Mmm, gak tau.."
"Oke, silahkan baca dulu paragraf terakhir" kata teh Kiky.
Bukupun beralih ke shofiyyah.
"Dengan membedakan warna bintiknya" jawab Shofiyyah.
"Bagaimana itu?
"Kalau jantan lebih gelap, betina warna bintiknya terang."
"Ini jantan atau betina, Faruq? Tanya teh Kiky sambil memperlihatkan gambar kupu2 dibuku tersebut.
Sambil mendengarkan kelas homeschool di atas mobil, diiringi hujan diluar yg semakin deras. Sy hanya bisa mencatat dalam hati saja.
Setelah buku khatam, dan semua sudah bisa menjawab dng benar pertanyaannya, kelas belajar tentang Kupu-kupu dibubarkan dengan rules boleh bermain tetap aman dan tenang.
Kelas beralih ke Aa Ali yang setoran hafalan Al-Baqaroh.
Mobil sudah tiba di Bantimurung, kami pun sudah turun dari kendaraan, namun karena Aa Ali belum selesai murojaahnya, teh Kiky menunggu sampai selesai.
Sebab apapun kondisinya, menuntaskan pelajaran adalah yg utama..
The next..
Belajar apa dan bagaimana mereka di tempat wisata..
Yukk ikuti terus yaa, di Bantimurung On The Road #2
Selasa, 25 Oktober 2016
Senin yang harusnya Santai
Pagi di senin sibuk itu handphone gak lepas2 dr pandangan.
Padahal niatnya hari itu stay cool di rumah menikmati hangatnya terapi jaket listrik, setelah 3 hari sebelumnya sok sibuk di kepanitiaan seminar teh Kibar.. Hehehe..
Setelah membantu menyiapkan kk ke sekolah dan adek sudah rapi wangi selesai mandi, sy minta izin agar bisa fokus koordinasi via wa.
Kami tim panitia sedang diskusi mengenai kegiatan edutrip teh kiki yg sedianya dilaksanakan hr ini.
Pagi ini rupanya panic attack.. Ohh No.. π±π±
Teman panitia yg sedianya mengantar beliau sedang berhalangan, dan mobil yg disiapkan gak ada driver.
Segera putar otak, mencari solusi tercepat dan terefesien, sebab teh Kiki beserta pasukannya juga sudah menunggu.
Akhirnya memutuskan utk menyewa mobil rental + drivernya biar lebih gampang mobile.
Berangkatkah sy ke hertasning sembari mencari plang penyewaan mobil rental.. Maklum, sy gak punya kontak rental mobil sama sekali. Mau bertanya2 dulu sepertinya akan makan waktu juga..
Jadilah pepatah 'malas bertanya jalan terus'.. πππ
Alhamdulillah disekitaran btn pao2 sy dapat plang sewa rental, segera sy hubungi, dan langsung sy datangi ke alamat yg tertera.
Belum semenit ketemu dengan pak supirnya telepon berdering lagi, rupanya teman sesama panitia mengabarkan kalau dia sudah berhasil mendapatkan mobil rental+driver+bensin dengan harga miring.
Sy segera menuju ke lokasi tempat pertemuan kami. Tak lupa singgah membeli beberapa snack dan persiapan sarapan yg akhirnya menjadi makan siang kami di Bantimurung sana..
Alhamdulillah tiba di paviliun teh Kibar, disana sudah ada teman panitia dan salah satu member IIP sedang diskusi hangat seputar pembelajaran tahfidz aa Ali.
Disana tampaknya asik sekali teh Kiky dan umm Lily sedang ngobrol mengenai program tahfidz Aa Ali, yang Alhamdulillah sudah khatam 30 juz. Tinggal memurojaah kembali.
Sementara anak2 teh kiky yg lain sibuk bermain dan menikmati suasana pagi itu layaknya anak2 lainnya, lari2, teriak2, dll.
Setelah mobil dr Rumah Sekolah Cendekia datang kami pun segera bersiap dan berangkat.
Teh kiky sekeluarga naik mobil dr rumah sekolah Cendekia, sedangkan sy dan umm Lily naik mobil rentalan.
Saat singgah sejenak di loundry sekitaran jl. Kijang, umm Lily mengusulkan, gimana kalau kita gabung di mobil teh kiky saja, tempatnya masih lapang, dan yg paling penting tentu bisa sambil ngobrol dng beliau dan melihat langsung interaksinya dng anak2 selama perjalanan.
Saya setuju..
Sy lalu negosiasi dng pak supir rental, dan Alhamdulillah beliau mau dibayar dengan sistem perjam.
Okelah..
Mari kita pindah mobil dan belajar..
Kisah perjalanan kami akan menyusul yaa..
Soalnya ada beberapa seri.. Hihihi..
Kayak drakor ajahhπππ
Padahal niatnya hari itu stay cool di rumah menikmati hangatnya terapi jaket listrik, setelah 3 hari sebelumnya sok sibuk di kepanitiaan seminar teh Kibar.. Hehehe..
Setelah membantu menyiapkan kk ke sekolah dan adek sudah rapi wangi selesai mandi, sy minta izin agar bisa fokus koordinasi via wa.
Kami tim panitia sedang diskusi mengenai kegiatan edutrip teh kiki yg sedianya dilaksanakan hr ini.
Pagi ini rupanya panic attack.. Ohh No.. π±π±
Teman panitia yg sedianya mengantar beliau sedang berhalangan, dan mobil yg disiapkan gak ada driver.
Segera putar otak, mencari solusi tercepat dan terefesien, sebab teh Kiki beserta pasukannya juga sudah menunggu.
Akhirnya memutuskan utk menyewa mobil rental + drivernya biar lebih gampang mobile.
Berangkatkah sy ke hertasning sembari mencari plang penyewaan mobil rental.. Maklum, sy gak punya kontak rental mobil sama sekali. Mau bertanya2 dulu sepertinya akan makan waktu juga..
Jadilah pepatah 'malas bertanya jalan terus'.. πππ
Alhamdulillah disekitaran btn pao2 sy dapat plang sewa rental, segera sy hubungi, dan langsung sy datangi ke alamat yg tertera.
Belum semenit ketemu dengan pak supirnya telepon berdering lagi, rupanya teman sesama panitia mengabarkan kalau dia sudah berhasil mendapatkan mobil rental+driver+bensin dengan harga miring.
Sy segera menuju ke lokasi tempat pertemuan kami. Tak lupa singgah membeli beberapa snack dan persiapan sarapan yg akhirnya menjadi makan siang kami di Bantimurung sana..
Alhamdulillah tiba di paviliun teh Kibar, disana sudah ada teman panitia dan salah satu member IIP sedang diskusi hangat seputar pembelajaran tahfidz aa Ali.
Disana tampaknya asik sekali teh Kiky dan umm Lily sedang ngobrol mengenai program tahfidz Aa Ali, yang Alhamdulillah sudah khatam 30 juz. Tinggal memurojaah kembali.
Sementara anak2 teh kiky yg lain sibuk bermain dan menikmati suasana pagi itu layaknya anak2 lainnya, lari2, teriak2, dll.
Setelah mobil dr Rumah Sekolah Cendekia datang kami pun segera bersiap dan berangkat.
Teh kiky sekeluarga naik mobil dr rumah sekolah Cendekia, sedangkan sy dan umm Lily naik mobil rentalan.
Saat singgah sejenak di loundry sekitaran jl. Kijang, umm Lily mengusulkan, gimana kalau kita gabung di mobil teh kiky saja, tempatnya masih lapang, dan yg paling penting tentu bisa sambil ngobrol dng beliau dan melihat langsung interaksinya dng anak2 selama perjalanan.
Saya setuju..
Sy lalu negosiasi dng pak supir rental, dan Alhamdulillah beliau mau dibayar dengan sistem perjam.
Okelah..
Mari kita pindah mobil dan belajar..
Kisah perjalanan kami akan menyusul yaa..
Soalnya ada beberapa seri.. Hihihi..
Kayak drakor ajahhπππ
Minggu, 23 Oktober 2016
NHW#1 Adab Menuntut Ilmu
Waahhh.. Masuk kelas matrikulasi lagi..
Dan berkejaran dengan pelaksanaan seminar parenting teh Kiki Barkiyah di Makassar.
Ditengah hiruk pikuk kesibukan dan kelelahan. Sy berazzam akan mengerjakan tugas tepat waktu..
Dan Alhamdulillah selesai juga..
πNICE HOMEWORK #1π
ADAB MENUNTUT ILMU
Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional Batch #2, kini sampailah kita pada tahap menguatkan ilmu yang kita dapatkan kemarin, dalam bentuk tugas.
Tugas ini kita namakan NICE HOMEWORK dan disingkat menjadi NHW.
Dalam materi "ADAB MENUNTUT ILMU" kali ini, NHW nya adalah sbb:
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
>> Jurusan ilmu yg akan dan selalu membuat saya bahagia adalah MENULIS, dan berupaya sebaik mungkin untuk belajar dalam dunia kepenulisan
2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
>> Karena dengan menulis kita bisa mengikat ilmu, dan membagi kepada yang membutuhkan, agar lebih banyak manfaat bagi sesama.
3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
>> 1. Mengikuti kelas menulis online.
2. Konsisten menulis 3 kali sehari meski hanya sebuah status, dan menulis 1 artikel 1 kali perpekan.
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
>>
Adab diri sendiri
* Bergegas dan menutamakan waktu2 menuntut ilmu.
* Menuntaskan sebuah ilmu dng cara mengulang2 dan rutin berlatih.
Adab terhadap guru/sumber guru
* Meminta izin kepada guru/Narasumber sebelum meshare ilmu.
*Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia*
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
Dan berkejaran dengan pelaksanaan seminar parenting teh Kiki Barkiyah di Makassar.
Ditengah hiruk pikuk kesibukan dan kelelahan. Sy berazzam akan mengerjakan tugas tepat waktu..
Dan Alhamdulillah selesai juga..
πNICE HOMEWORK #1π
ADAB MENUNTUT ILMU
Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional Batch #2, kini sampailah kita pada tahap menguatkan ilmu yang kita dapatkan kemarin, dalam bentuk tugas.
Tugas ini kita namakan NICE HOMEWORK dan disingkat menjadi NHW.
Dalam materi "ADAB MENUNTUT ILMU" kali ini, NHW nya adalah sbb:
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
>> Jurusan ilmu yg akan dan selalu membuat saya bahagia adalah MENULIS, dan berupaya sebaik mungkin untuk belajar dalam dunia kepenulisan
2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
>> Karena dengan menulis kita bisa mengikat ilmu, dan membagi kepada yang membutuhkan, agar lebih banyak manfaat bagi sesama.
3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
>> 1. Mengikuti kelas menulis online.
2. Konsisten menulis 3 kali sehari meski hanya sebuah status, dan menulis 1 artikel 1 kali perpekan.
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
>>
Adab diri sendiri
* Bergegas dan menutamakan waktu2 menuntut ilmu.
* Menuntaskan sebuah ilmu dng cara mengulang2 dan rutin berlatih.
Adab terhadap guru/sumber guru
* Meminta izin kepada guru/Narasumber sebelum meshare ilmu.
*Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia*
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
Sabtu, 15 Oktober 2016
Toilet Training Adek Rofi
Pekan lalu salah satu tahap perkembangan dan kemandirian Rofi tercapai, mengenai Toilet Training.
Alhamdulillah berhasil di hari ke5.
Diusianya yang ke-3 tahun baru bisa sukses melepaskan pospak. Mungkin bagi anak2 lain agak telat, tapi bagi kami khususnya Asrofi yg mengalami speech delay, ini adalah salah satu pencapaian besar.
Rata-rata anak lainnya bisa lulus TT usia 2 tahunan, bahkan sepupu Rofi dan sepupu sy yg masih baby, bisa lulus TT diusia kurang dr 2 tahun.
Namun, saya gak begitu terbebani mengenai 'keterlambatannya' ini. Sy hanya merasa bahwa Rofi belum siap secara fisik dan psikis. Jika dia merasa sudah siap tentu akan menunjukkan ciri2nya dan akan mengalaminya dengan proses yg menyenangkan dan bebas drama.
Sebenarnya sejak usia 2 tahunan kami sudah beberapa kali mencoba namun belum berhasil.
Karena Rofi yg belum siap (belum mampu mengenali dan mengontrol keinginan BAK dan BAB, belum bisa menyampaikan secara lisan) dan saya yg masih malas dan terlanjur nyaman (tapi gak bersahabat di dompet) dengan popok sekali pakai itu.
Akhirnya belajar kembali, baca2 artikel terkait toilet training, sharing dengan ibu2 yg juga punya masalah yg sama bahwa jika si Anak sudah siap maka proses itu akan berjalan dengan lancar.
Ya.. Kesiapan, ini sangat penting. Bukan hanya si anak yg harus siap. Tapi seluruh isi rumah dan kondisi rumah juga harus siap.
Rupanya selama ini kami -khususnya saya dan Rofi- belum siap mengalami proses TT itu yg biasanya melelahkan (bolak-balik wc, ngepel lantai, ganti sprei, dll).
Rofi kami anggap siap saat sudah bisa mengucapkan keinginannya untuk BAK dan BAB, itu salah satu ciri2nya. Sedangkan saya sebagai ibunya juga harus siap, siap mengantar dan menemani saat bak dan bab, siap melap pipis yg terlanjur keluar karena telat ke wc, siap menganti pakaian saat terkena najis secara tidak sengaja, siap ngepel lantai setiap saat, siap nyuci baju yg cepat sekali menumpuk bak gunung dan sederet kesiapan lainnya yg mengikuti proses TT ini.
Begitupula si kk Aira dan Abi, mereka juga sy siapkan untuk ikut aktif dalam proses TT si adek. Mereka harus menyiapkan diri untuk bekerjasama saling bahu membahu meluluskan program ini.
Harus siap membantu adek membersihkan diri, membantu mengambilkan celana dan menggantinya, membantu mengepel lantai, bahkan hal2 ringan seperti mengingatkan si adek saat muncul tanda2nya kebelet pipis atau mau BAB.
Alhamdulillah.. Proses yg saya pikir akan berlangsung lama dan melelahkan rupanya berjalan lancar dan singkat..
Hanya sekitar 3 hari saja kegiatan ngepel, ganti celana, angkat2 rofi ke wc, berlangsung. Dan selama 3 hari itu sy selalu sounding "Dek, kalau mau pipis bilang ya, kita pipisnya di wc..". 2 hari berikutnya si Adek sudah bisa menyampaikan keinginannya
"Mi, pipi.." sambil memelorotkan celananya.
"Mi, Ee.." katanya jika ingin pup.
Dan hari ke 6 sukses..
Saat ingin pipis langsung buka celana, ke wc, bersihkan diri dengan menyiram perutnya ke bawah, dan keluar dari wc dan berucap "Mi, udah.."
"Wahh.. Alhamdulillah, adek Rofi pintar, sudah besar, sudah bisa pipis sendiri, sini ummi peluk.."
Alhamdulillah berhasil di hari ke5.
Diusianya yang ke-3 tahun baru bisa sukses melepaskan pospak. Mungkin bagi anak2 lain agak telat, tapi bagi kami khususnya Asrofi yg mengalami speech delay, ini adalah salah satu pencapaian besar.
Rata-rata anak lainnya bisa lulus TT usia 2 tahunan, bahkan sepupu Rofi dan sepupu sy yg masih baby, bisa lulus TT diusia kurang dr 2 tahun.
Namun, saya gak begitu terbebani mengenai 'keterlambatannya' ini. Sy hanya merasa bahwa Rofi belum siap secara fisik dan psikis. Jika dia merasa sudah siap tentu akan menunjukkan ciri2nya dan akan mengalaminya dengan proses yg menyenangkan dan bebas drama.
Sebenarnya sejak usia 2 tahunan kami sudah beberapa kali mencoba namun belum berhasil.
Karena Rofi yg belum siap (belum mampu mengenali dan mengontrol keinginan BAK dan BAB, belum bisa menyampaikan secara lisan) dan saya yg masih malas dan terlanjur nyaman (tapi gak bersahabat di dompet) dengan popok sekali pakai itu.
Akhirnya belajar kembali, baca2 artikel terkait toilet training, sharing dengan ibu2 yg juga punya masalah yg sama bahwa jika si Anak sudah siap maka proses itu akan berjalan dengan lancar.
Ya.. Kesiapan, ini sangat penting. Bukan hanya si anak yg harus siap. Tapi seluruh isi rumah dan kondisi rumah juga harus siap.
Rupanya selama ini kami -khususnya saya dan Rofi- belum siap mengalami proses TT itu yg biasanya melelahkan (bolak-balik wc, ngepel lantai, ganti sprei, dll).
Rofi kami anggap siap saat sudah bisa mengucapkan keinginannya untuk BAK dan BAB, itu salah satu ciri2nya. Sedangkan saya sebagai ibunya juga harus siap, siap mengantar dan menemani saat bak dan bab, siap melap pipis yg terlanjur keluar karena telat ke wc, siap menganti pakaian saat terkena najis secara tidak sengaja, siap ngepel lantai setiap saat, siap nyuci baju yg cepat sekali menumpuk bak gunung dan sederet kesiapan lainnya yg mengikuti proses TT ini.
Begitupula si kk Aira dan Abi, mereka juga sy siapkan untuk ikut aktif dalam proses TT si adek. Mereka harus menyiapkan diri untuk bekerjasama saling bahu membahu meluluskan program ini.
Harus siap membantu adek membersihkan diri, membantu mengambilkan celana dan menggantinya, membantu mengepel lantai, bahkan hal2 ringan seperti mengingatkan si adek saat muncul tanda2nya kebelet pipis atau mau BAB.
Alhamdulillah.. Proses yg saya pikir akan berlangsung lama dan melelahkan rupanya berjalan lancar dan singkat..
Hanya sekitar 3 hari saja kegiatan ngepel, ganti celana, angkat2 rofi ke wc, berlangsung. Dan selama 3 hari itu sy selalu sounding "Dek, kalau mau pipis bilang ya, kita pipisnya di wc..". 2 hari berikutnya si Adek sudah bisa menyampaikan keinginannya
"Mi, pipi.." sambil memelorotkan celananya.
"Mi, Ee.." katanya jika ingin pup.
Dan hari ke 6 sukses..
Saat ingin pipis langsung buka celana, ke wc, bersihkan diri dengan menyiram perutnya ke bawah, dan keluar dari wc dan berucap "Mi, udah.."
"Wahh.. Alhamdulillah, adek Rofi pintar, sudah besar, sudah bisa pipis sendiri, sini ummi peluk.."
Selasa, 30 Agustus 2016
Siapa yang Boleh Membalas?
Pagi ini, saat sy menikmati sarapan, kk Aira bertanya sambil ngadem depan kulkas
"Mi, kalau jadi kakak harus selalu mengalah kah, gak boleh membalas?"
Saya langsung tertegun sejenak..
Lalu saya jawab
"Semua gak ada yg boleh membalas, kakak, adik, ummi, abi, sepupu."
"Begitu juga dengan mengalah, bukan berarti kalah.. tetapi menghindari bertengkar lebih baik." Lanjut sy kemudian.
Dia kemudian terdiam sambil senyum2 melirik kearah sy.
Sepertinya ini warning buat kami sebagai orangtua.. Beberapa waktu belakangan ini, memang saat kk Ai dan adek Rofi bermain, kadang si Adek refleks memukul, mungkin hanya sebatas utk seru2an, atau sekedar main2 saja, dan kk Ai yg biasanya merasa kesakitan kadang gemes mau membalas..
Dan saat situasi seperti itu, kami spontan mengingatkan si kk,
"Kk, jangan dibalas kk..."
Atau
"Kk, mengalah ya kak, adek masih kecil, belum tau kalau memukul itu sakit."
Dan sangat jarang kami menasihati si Adek
"Adek, kalau adek pukul kakak, kakak kesakitan"
Atau
"Adek, kakak di sayang ya Nak"
Saya lama merenung dan akhirnya menyadari, rupanya perlakuan kami terhadap mereka akhir2 ini tidak adil. Kami justru mengingatkan 'sang Korban' yang lebih besar, bukannya malah menegur 'si Pelaku' yang masih kecil.
Kami lupa, bahwa menjadi seorang kakak bukan berarti harus selalu mengalah pada sang adik hanya karena adiknya lebih kecil.
Kami lalai bahwa ternyata sang adiklah yang harus diberi pengertian dengan bahasa yg dimengertinya bahwa mereka seharusnya saling menyayangi, bukannya menyakiti.
Ahh.. maafkan kami nak..
Rupanya masih sering terjebak pada pola pengasuhan masa lalu yg pernah kami alami.
Rupanya sebanyak apapun ilmu parenting yang kami serap, pengalaman masa lalu masih sering menelusup diam2 keluar dari persembunyiannya.
Tapi menjadi orangtua adalah proses belajar, belajar dari masa lalu, belajar dari pengalaman, belajar dari lingkungan, belajar dan terus belajar.
Temani kami nak, dalam perjalanan belajar ini
"Mi, kalau jadi kakak harus selalu mengalah kah, gak boleh membalas?"
Saya langsung tertegun sejenak..
Lalu saya jawab
"Semua gak ada yg boleh membalas, kakak, adik, ummi, abi, sepupu."
"Begitu juga dengan mengalah, bukan berarti kalah.. tetapi menghindari bertengkar lebih baik." Lanjut sy kemudian.
Dia kemudian terdiam sambil senyum2 melirik kearah sy.
Sepertinya ini warning buat kami sebagai orangtua.. Beberapa waktu belakangan ini, memang saat kk Ai dan adek Rofi bermain, kadang si Adek refleks memukul, mungkin hanya sebatas utk seru2an, atau sekedar main2 saja, dan kk Ai yg biasanya merasa kesakitan kadang gemes mau membalas..
Dan saat situasi seperti itu, kami spontan mengingatkan si kk,
"Kk, jangan dibalas kk..."
Atau
"Kk, mengalah ya kak, adek masih kecil, belum tau kalau memukul itu sakit."
Dan sangat jarang kami menasihati si Adek
"Adek, kalau adek pukul kakak, kakak kesakitan"
Atau
"Adek, kakak di sayang ya Nak"
Saya lama merenung dan akhirnya menyadari, rupanya perlakuan kami terhadap mereka akhir2 ini tidak adil. Kami justru mengingatkan 'sang Korban' yang lebih besar, bukannya malah menegur 'si Pelaku' yang masih kecil.
Kami lupa, bahwa menjadi seorang kakak bukan berarti harus selalu mengalah pada sang adik hanya karena adiknya lebih kecil.
Kami lalai bahwa ternyata sang adiklah yang harus diberi pengertian dengan bahasa yg dimengertinya bahwa mereka seharusnya saling menyayangi, bukannya menyakiti.
Ahh.. maafkan kami nak..
Rupanya masih sering terjebak pada pola pengasuhan masa lalu yg pernah kami alami.
Rupanya sebanyak apapun ilmu parenting yang kami serap, pengalaman masa lalu masih sering menelusup diam2 keluar dari persembunyiannya.
Tapi menjadi orangtua adalah proses belajar, belajar dari masa lalu, belajar dari pengalaman, belajar dari lingkungan, belajar dan terus belajar.
Temani kami nak, dalam perjalanan belajar ini
Minggu, 28 Agustus 2016
Mensyukuri Nikmat Sehat
Pergilah ke Rumah Sakit untuk mensyukuri nikmat sehat.
Sungguh pernyataan tersebut sangat benar adanya..
Terkadang kita lupa bahwa kesehatan adalah harta yg tak ternilai. Lalu tanpa sadar (atau pura2 gak sadar) merecoki tubuh dengan berbagai makanan enak tapi tak sehat, makanan instan yang kaya pengawet, pewarna, pemanis, dan penguat rasa. Menerapkan pola hidup tidak sehat, tidur larut malam, malas olahraga, memelihara pikiran negatif. Belum lagi lingkungan yang minim udara bersih, air bersih, dan berbagai kebersihan lainnya semakin memperparah tingkat kerusakan sel2 tubuh yang sedianya harus dijaga dan dirawat dengan baik.
Kesadaran biasanya datang saat penyakit mulai bertamu tanpa permisi. Tiba2 kita sadar, bahwa perlakuan yg tidak sehat terhadap tubuh kita akhirnya memicu sel2 tubuh untuk berkembang secara brutal dan akhirnya jadilah kanker, asam urat, kolesterol, diabetes, tumor, dsb.
Seperti sore ini, saat melakukan pemeriksaan di sebuah RS bagian Bedah Onkologi, tiba2 kesyukuran merasuk dalam diri ini.. Sebelumnya berpikir, aduh, sakit sy apa nih, sepertinya berat.
Ternyata diluar sana masih banyak yang memiliki penyakit yg jauh lebih parah dari saya, selayaknya sy bersyukur.. Masih bisa beraktifitas normal, menikmati hidup, menuangkan kreatifitas dan ide2, menikmati keindahan dan kerepotan menjadi ibu.
Kesadaran kemudian muncul belakangan, bahwa ternyata selama ini pola makan dan pola hidup jauh dr ideal. Terlalu lena dan lalai dengan iklan2 dan kemudahan2 yg mengikutinya (instan).
Jadi mumpung masih ada kesempatan, berusaha dengan segala daya dan upaya, memperbaiki pola hidup, pola makan, dan pola pikir.
Dan semampunya back to nature..
(Awal Maret 2016)
Cinta Pertama
Jika ada yg bertanya padaku tentang cinta pertama, maka akan sy jawab "Buku".
Jatuh cinta pada buku2 fiksi diusia SD meskipun secara latar belakang keluarga sy jauh dari suasana suka buku dan suka baca.
Bahkan terkadang ditegur, saat makan sambil baca, saat jaga padi sambil baca (sampai2 lengah dan terkadang melewatkan 1-2 ekor ayam menikmati padi dengan santainya..:)), begadang sampe tengah malam karena baca buku yg belum tuntas.
Cinta pertama itu pulalah yg membuat saya melakukan kekhilafan besar semasa SD, mencuri sebuah buku fiksi, yg belum habis saya baca saat materi pengayaan disekolah..
Ssttt jangan ditiru!
Ahh.. Cukuplah berkisah tentang cinta pertama. Sebab kini, cinta itu ternyata semakin bersemi, ditumbuhi bunga2 cantik nan wangi.
Dan merebak menyebar mengantarkan wangi..
Setelah bertahun lampau, melakoni peran di muka bumi, menjadi istri, menjadi ibu, tergabung dalam komunitas IIP yang banyak sekali membentuk dan mengarahkan pola pikir, dan akhirnya tenggelam dalam asyiknya suasana kelas menulis yang belum cukup sebulan usianya, bisa mengobati kerinduan pada buku..
Semoga salah satu mimpi besar, bisa terealisasi di kelas ini.
Menerbitkan buku..
Bukan semata karena cinta..
Bukan semata karena mimpi..
Bukan semata sebagai bukti diri..
Atau sebagai jejak langkah..
Tetapi, agar bisa manfaat bagi sesama..
Jatuh cinta pada buku2 fiksi diusia SD meskipun secara latar belakang keluarga sy jauh dari suasana suka buku dan suka baca.
Bahkan terkadang ditegur, saat makan sambil baca, saat jaga padi sambil baca (sampai2 lengah dan terkadang melewatkan 1-2 ekor ayam menikmati padi dengan santainya..:)), begadang sampe tengah malam karena baca buku yg belum tuntas.
Cinta pertama itu pulalah yg membuat saya melakukan kekhilafan besar semasa SD, mencuri sebuah buku fiksi, yg belum habis saya baca saat materi pengayaan disekolah..
Ssttt jangan ditiru!
Ahh.. Cukuplah berkisah tentang cinta pertama. Sebab kini, cinta itu ternyata semakin bersemi, ditumbuhi bunga2 cantik nan wangi.
Dan merebak menyebar mengantarkan wangi..
Setelah bertahun lampau, melakoni peran di muka bumi, menjadi istri, menjadi ibu, tergabung dalam komunitas IIP yang banyak sekali membentuk dan mengarahkan pola pikir, dan akhirnya tenggelam dalam asyiknya suasana kelas menulis yang belum cukup sebulan usianya, bisa mengobati kerinduan pada buku..
Semoga salah satu mimpi besar, bisa terealisasi di kelas ini.
Menerbitkan buku..
Bukan semata karena cinta..
Bukan semata karena mimpi..
Bukan semata sebagai bukti diri..
Atau sebagai jejak langkah..
Tetapi, agar bisa manfaat bagi sesama..
Langganan:
Postingan (Atom)