Rabu, 07 Maret 2018
Belajar Asyik dengan Worksheet dan Printable
Menjalani pilihan homeschooling memang membuat kami (khususnya saya) harus kreatif dan inovatif dalam menyuguhkan materi-materi pelajaran. Meskipun beberapa kali mengalami, stuck, mati gaya, kehilangan ide, atau apapun namanya itu, learning is must go on 😂😂😂.
Untunglah ada sesuatu yang bernama internet, yang sangat menolong dan membantu saya yang agak-agak gimana gitu kalau mau buat worksheet di laptop. 😂😂😂
Nah beberapa web berikut ini menjadi tempat saya mendownload aneka printabel, worksheet, ataupun flash card untuk bahan belajar kami.
1. Education.com
Saya sangat suka dengan worksheet dari sini, karena selain berwarna temanya sangat cocok untuk usia prasekolah. Ada beberapa pelajaran yang disediakan disini, yaitu matematika, reading, dan writing.
Untuk bisa masuk ke webnya silahkan masukkan email ya.
2. Mrprintable.com
Disini worksheet yang tersedia juga beragam untuk rentang usia 3- 12 tahun . Selain worksheet juga ada beberapa flash card yang bisa didownload. Tentu saja gratis. 😁😁
3. Worksheetfun.com
Untuk pelajaran matematika disini sangat lengkap dan jenis soal sangat bervariasi. Kakak Aira juga senang mengerjakan worksheet dari sini. Kami paling banyak mendownload worksheet matematika dari sini.
4. LittleWorksheets.com
Disini juga tersedia banyak pilihan. Beberapa mapel seperti matematika, sains, reading, ada disini.
5. Rumahbunda.com
Kalau cari yang versi bahasa Indonesia, disini tempatnya. Isinya sangat cocok untuk usia 2-8 tahun.
6. Ecosystemforkids.com
Untuk pelajaran sains kami banyak mengambil materi dari web ini. Fullcolor dan menarik. Meskipun disajikan dalam bahasa Inggris, kakak bisa menyelesaikan dengan diberikan sedikit clue.
7. Themeasuredmom.com
Untuk flashcard usia prasekolah kami ambil dari sini, seperti abjad, benda, dll.
Nah, itu dia beberapa web tempat kami mendownload penunjang pembelajaran kami secara gratis. Biasanya web tertentu hanya minta alamat email orangtua. Selamat berburu materi pendamping belajar anak.
Semoga bermanfaat
Minggu, 04 Maret 2018
Musim Buah di Kampung Halaman
Akhir pekan lalu kami habiskan di kampung halaman suami Sinjai. Kebetulan ada hari Jum'at tanggal merah, jadi longg weekend...
Agenda pulang kampung kali ini, tak lain dan tak bukan adalah menjelajah isi kebun di Mannanti, kecamatan yang terkenal sebagai penghasil buah-buahan.
Jumat pagi kami sudah bersiap, bawa beberapa karung, seplastik kresek, dan tentunya bawa bekal buat makan siang di tengah kebun di bawah pohon rambutan. Waah, ngebayangin saja sudah bikin bahagia, apalagi kalau sudah direalisasikan.
Perjalanan dari Tondong ke Mannanti memakan waktu sekitar 60-70 menit. Tapi lamanya perjalanan gak begitu terasa, karena sepanjang jalan mata dimanjakan dengan juntaian buah rambutan yang beraneka ragam dan warna.
Tak ketinggalan juga pohon rambutan yang buahnya sudah mulai merayu-rayu. Sesekali kebun buah naga juga muncul, dan tak hanya itu, banyak rumah yang menjadikan pohon buah Naga ini menjadi pagar. Sayang, sepertinya masa panen buah naga sudah lewat karena sudah tidak kelihatan lagi buahnya yang merah muda keunguan itu.
Pukul 10.05 kami tiba di kebun. Turun dari mobil kami langsung berkerumun di bawah pohon rambutan, dan meraih buah2 yang rendah. Setelah dapat pinjaman penjolok dari tetangga kebun, kami mulai memetik. Tak puas mengandalkan penjolok yang tidak mampu menjangkau buah2 yang tinggi, ponakan akhirnya manjat dan mulai menjilati dari dahan yang lebih dekat dengan buah-buahnya.
Ditingkahi suara riuh Aira, Rofi dan sepupunya yang berlarian memungut buah rambutan, saya sibuk memasukkan buah2 yg sudah dikumpulkan ke dalam karung yg sudah disiapkan dari rumah.
Setelah karung-karung itu menggendut karena telah penuh, kami beranjak ke rumah salah satu kerabat yang dekat dari situ.
Sampai disana, kami akhirnya buka bekal (padahal nikmat kalau buka bekal dikebun), mandi, dan kaum pria bersiap untuk ke masjid melaksanakan shalat Jum'at.
Selesai makan, sholat, dan istirahat sejenak, kami lanjutkan perjalanan ke rumah salah satu teman abi. Disana kami dijamu dengan sajian makan siang ala kampung (Lawa dan Tunu bale) yang membuat diri ini tak mampu menolak, hahaha..
Pulang dari sana kami diberikan buah tangan rambutan dan buah naga.
Matahari pun semakin tergelincir ke arah barat, kami pamit dan pulang ke rumah. Perjalanan pulang tidak secepat perjalan datang tadi, Karen muatan yang bertambah berkali-kali lipat. Alhamdulillah aneka buah-buahan memenuhi kursi belakang mobil yg kami bawa. Ada rambutan, durian, sirsak, manggis, buah naga, pepaya.
Alhamdulillah...
Sepertinya gak lama lagi kami akan planning pulang kampung kembali mengulang kejayaan ini.
Hahaha...
Kamu Mantan Siapa?
B : "Bukan itu, yang baju merah"
A : "Pacaran mako lagi sama dia"
Saya tertegun sesaat, ditengah riuh rendah suara pengunjung kolam pagi tadi saat mendengar percakapan itu.
Bukan hanya karena tema yang tidak biasa, tapi juga karena mereka masih anak-anak. Kalau saya tebak mereka sekitar kelas 3 atau 4 SD.
Hah.. anak SD?
Iya Bu, anak SD sekarang bahasannya bukan "kamu mau main apa?" Tapi sudah melonjak drastis menjadi "kamu mantannya siapa?"
Dan itu terjadi di sekeliling kita, disekitar kita, dekat sekali dari rumah kita, dari lingkungan kita.
Pergaulan bebas alias pacaran sudah bukan barang tabu di masyarakat. Bahkan sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan 'keren'. Bukan hanya diperkotaan, tetapi juga di pedalaman, desa-desa yang kita anggap masih terpencil, semua sudah terjamah teknologi salah sasaran. Tak jarang saat saya pulang ke kampung halaman mendengar kabar miris bahwa si Fulan marriage by accident.
Betapa sering kita melihat berita di tv tentang pemerkosaan, pencabulan anak dibawah umur, dan aneka kejahatan seksual lainnya yang sungguh ngeri membayangkan. Kejadian itu semakin dekat dengan kita. Jangan sampai kita terlena dengan hal-hal duniawi dan melupakan tugas utama kita yang sesungguhnya.
Ayo Bu..
Bangun...
Sadar Bu...
Handphone dan TV menurut saya salah dua sebab yang menjadikan generasi muda kita lemah secara psikis. Fungsi kedua benda tersebut telah bergeser. Olehnya itu, tugas kita sebagai orangtuanya agar jeli melihat kondisi. Jangan biarkan anak terlalu memiliki privasi dengan kedua benda itu. Bukan berarti memutuskan hubungan dengan TV dan Hp ya, akan tetapi memahamkan anak tentang menggunakan Hp dan TV sesuai fungsinya.
Jangan biarkan anak kita begitu dini terpapar hp dengan dalih menonton video edukasi. Atau membiarkan anak menonton TV tanpa kontrol.
Mulai luangkan waktu untuk bermain. Sebab permainan terbaik yang dilakukan oleh anak adalah bermain dengan orangtuanya. Melalui permainan pun kita bisa menyisipkan nilai-nilai, tata cara pergaulan, dan cara menjaga diri dari kerasnya pergaulan di dunia luar.
Mari kita jaga anak-anak kita. Perkuat pondasi dari rumah sebelum dilepaskan ke lingkungan luar. Perkuat bonding ayah dan ibu, pererat hubungan kekeluargaan.
Ayah dekatkan ke anak perempuan agar sang anak tak mudah tergoda bujuk rayunya lelaki. Sedangkan Ibu dekat ke anak lelaki, agar sang anak tahu cara menghargai perempuan.
Rumah memang tempat terbaik untuk melindungi anak, namun mereka tak selamanya berada di rumah. Ayah dan ibu ambillah kembali peran-peran yang pernah diserahkan kepada nenek, kakek, pengasuh, day care, play group, TK, bahkan sekolah. Mereka hanyalah sarana penunjang, bukan yang utama.
Sebab di akhirat kelak, yang akan ditanya adalah kita, orangtua mereka.
Rabu, 20 September 2017
Pisau Tumpul
Sebab berapa banyak permasalahan yg bisa selesai hanya dengan menerapkan komunikasi produktif, dan berapa banyak keluarga yang bermasalah gara2 komunikasi tidak efektif berlangsung.
Al kisah, ada sepasang suami istri yang sudah berumah tangga beberapa waktu lamanya. Suatu hari istri mengeluh karena pisau dapur yg biasa digunakannya terasa tumpul. Hal tersebut membuatnya susah menyelesaikan pekerjaan di dapur secara cepat dan efesien.
Curhatlah istri kepada suami
"Ayah, pisau-pisau ini sudah terlalu tumpul untuk digunakan, coba lihat"
(Padahal maksudnya agar pisau2 tersebut diasah)
"Pisau tumpul itu ya tinggal diasah saja, beres kan" jawab sang suami.
"Kalau begitu, asahkan dong" balas Sang Istri.
"Masa asah mengasah pisau juga gak bisa, dicoba dulu dong" pungkas pak suami.
Akhirnya karena malas berdebat dengan suaminya, istri mengasah pisau tersebut dengan perasaan kesal karena tidak berhasil membujuk sang suami untuk membantunya mengasah pisau. Dia pun menyelesaikan tugas domestiknya hari itu dengan perasaan yang kurang nyaman.
Akibatnya hasil masakannya keasinan ditambah wajahnya yang masam menghiasi suasana makan malam pasangan tersebut.
Dan pisau itu, semakin lama semakin tumpul saja.
Setelah diusut latar belakang pasangan suami istri tersebut, akhirnya muncullah akar permasalahannya.
Rupanya si Istri berasal dari keluarga yang jangankan mengasah pisau, menyiangi ikan saja biasanya dilakukan oleh kaum ayah atau para suami. Sehingga para ibu dan istri hanya bertugas untuk meramu bumbu dan memasak saja. Kebiasaan tersebut akhirnya terbawa hingga si istri hidup berumah tangga, dan berharap suaminya sama seperti para suami dari kerabatnya.
Sedangkan si Suami berasal dari keluarga yang super power. Maksudnya disini, kaum ibu/istrinya jangankan hanya mengasah pisau, mengasah golok, membelah kayu, bahkan turun ke sawah adalah hal biasa.
Mendapati istrinya yang jangankan mengasah golok, mengasah pisau saja yang hanya besi kecil saja perlu bantuan suami, membuatnya heran.
Nah, jadi ketahuan kan, masalahnya apa.
Rupanya mereka berdua belum mengenal lebih jauh tentang pribadi dan keluarga masing-masing. Mereka hanya belajar dari pengalaman di keluarga asalnya.
Akhirnya hanya karena sebuah pisau tumpul, permasalahan bisa merembet kemana-mana.
Nah kan..
Jadi solusinya supaya semakin kenal dan dekat apa dong?
Berbicara, ngobrol, bercerita, apa saja. Saat sarapan ngobrol lah, jangan biarkan teh hangat ikut- ikutan dingin dalam suasana yang mencekam.. hihihi..
Saat tea time di sore hari bolehlah disampaikan ke pasangan uneg2nya, tapi dengan cara yang sesuai tipe pasangan masing-masing ya.
Semua taulah pasangannya tipenya apa.
Ada yang suka pakai kata-kata romantis plus hiperbola, ada yang langsung to the point, atau ada juga yang biasanya butuh kata pengantar dulu seperti buku-buku cetak.. hahaha..
Maaf.. maaf.. kebablasan...
Yaa.. jadi sebelum masalah berlarut-larut yuk kita asah pisau masing-masing.
Eh bukan...
Yuk belajar berkomunikasi produktif dengan anggota keluarga...
Sabtu, 25 Maret 2017
Mambulilling
Mambulilling
Izinkan aku merengkuhmu dalam anganku sekali saja
Agar getar jiwaku menyatu padu pada rindu
Yang tertinggal petang itu ketika dari puncakmu
Terkirim angin semilir
Menemani pertemuan
Karena masih terekam jelas letak pohon dan wibawa
Yang tertancap pada persimpangan
Mengajakku menikmatimu meski tersaput awan kelabu
Namun hatiku bercorak warna warni kala itu
Tersembunyi dari celah rompi oranye
Masih deras terasa air Rambu saratu memerciki kalbuku
Ketika aku harus bertolak pulang
Meninggalkan angan terpotong purnama
Sejak hatiku mencuri warna awanmu diam-diam
Perpus FBS, UNM
22-09-06
Jumat, 24 Maret 2017
Dari Sudut Laguna
Dari sudut laguna
Ada langit bercengkrama
Pada senja yg terpasung
Matahari
Menebar jingga
Hingga bias ombak samudera
Bertepuk di tepian pasir
Tak berbutir
Dari sudut laguna
Kutantang angin
Melayangkan auraku pada pulau terjauh
Agar ranting disampingku tunduk malu
Dan cahaya luruh
Di ujung senyumku
Dari sudut laguna
Kutikam rembulan yg malu
Bagai sabit tersamar
Dengan segenggam doa sayu
Agar laguna ini, tak pernah ada.
Makassar, 26 Agustus 2006
Selasa, 07 Maret 2017
Kisah Si Kue Es
Beberapa hari ini di grup pengurus IIP Sulawesi obrolan lagi bahas market daynya para anak. Mamasty, salah satu pengurus, yang jago sekali bikin kreasi balon dan merupakan salah satu penanggung jawab di rumbel masak membuatkan kue Cum-cum utk dijual di market day nanti.
Kue yang terbuat dari pastry berbentuk kerucut lonjong berisi fla.
Beberapa bulan lalu saat raker di rumah mamasty kami memang disuguhkan dengan kue cum-cum ini.
Rasanya enak, krenyes2 diluar manis dan lembut didalam.
Tapi bukan hanya persoalan enak saja sebenarnya, kue ini sukses mengingatkan saya pada kenangan2 manis bersama kakek Zainuddin Almarhum, is my Hero.
🔙🔙🔙🔙🔙🔙🔙
Kisah yg tersimpan selama 25 tahun namun selalu segar diingatan.
Karena kakek bertugas di kota yg agak jauh dari tempat tinggal kami, jadi beliau hanya pulang saat weekend.
Saya yang masih usia 6 tahunan saat itu, selalu menantikan saat weekend tiba.
Kalau sdh tiba hari sabtu, maka sy akan meminta izin sama mama pergi ke rumah kakek menanti kedatangannya.
Jarak sekitar 300meter bagi kami yang tinggal di kampung masih tergolong dekat utk anak seusia saya.
Maka saya bersama adik sy Ani pun berangkat dengan hati riang.
Di rumah nenek masih ada beberapa adik mama yg tinggal disana. Ada yang SMP dan SMA 2 orang.
Dan mereka itu usil sekali, suka membully kami, dan memerintah yg aneh2.. Misal disuruh bersuara aneh, bahkan tak jarang membuat kami menangis. 😤😤
Tapi kami gak kapok2, kami tetap bertahan demi menunggu kedatangan sang kakek tercinta.
Saat kakek tiba kami bersorak sorai sambil lompat2. Kami segera dipeluk, dan tak lupa beliau menyerahkan oleh2 yg selalu kami rindukan juga, si KUE ES.
Kue yang berbentuk kerucut lonjong dan berisi vla ini adalah barang mewah dan enaakk bagi saya.
Saya menamakannya kue es, karena bentuknya yg seperti es krim conello.
Namun sepertinya kue ini akan berubah lagi namanya menjadi "kue kenangan manis".. 😍😍
Kakek Zainuddin menjadi salah satu role model Parenting bg saya kini.
Rupanya caranya melayani kami cucu2nya, menghargai, menghormati keinginan, memberikan hadiah, memberikan pelukan, mengajak bermain, itu semua tak mudah terhapus dr benak kami cucu2nya.
Betapa kenangan manis akan mengakar kuat disana.




