Selasa, 16 Juni 2020

Doa Yang Dianulir


Ket foto: kucing yg minta didoakan 😅😅

Sekitar akhir tahun 2016 saya didiagnosis sakit berat. Saya anggap berat saat itu karena kondisi sudah drop. Rasa sakit yang sangat membuat saya hanya mampu tergolek lunglai di tempat tidur. Untuk balik kiri balik kanan pun butuh bantuan. Kematian membayang di depan mata, apalagi saat konsul di salah satu dokter spesialis yang menyayangkan sekaligus sedikit 'kultum sadis' gara-gara telat dibawa ke dokter.

Saya selaku pasien yang secara fisik dan psikis berada di titik nadir semakin terbenam jauh rasanya. Niat hati ingin mendapatkan kesehatan, kesembuhan, minimal motivasi dan support,  tapi kenyataan justru bikin keder datang konsultasi berikutnya. Akhirnya,  memilih ganti dokter. Alhamdulillah  Allah pertemukan dengan seorang dokter yang cool, cocok kriterianya dengan saya. Baru masuk ruangannya saja sudah merasa sehat... 😄😄😄😍

Kembali ke kondisi saya yang down tadi, sebuah doa terucap dari lisan saya. Doa yang merupakan senjata kita sebagai seorang muslim kurasakan sebagai satu satunya penolong saya saat itu.

Doa yang berbunyi "Ya Allah, kumohon kesembuhan ya Rabb. Kumohon usia panjang, untuk menemani anak anak saya, paling tidak beri 10 tahun lagi agar saat itu jika mereka harus kehilangan saya di dunia, mereka sudah siap."

Doa itu sering kali saya ulang ulang dengan sepenuh hati. Apalagi saat rasa sakit menyerang tulang belakang. Rasanya seperti tulang kita sedang dipukuli paku tajam berulang-ulang. (Gak usah dibayangkan, kamu gak akan kuat, biar saya saja.. Maaf kalo dialognya ikut ikutan kekinian....  Hehehe).

Yang saya takutkan sekaligus harapkan terjadi, sepertinya doa saya makbul sodara sodara.. 😆😆

Saya diberikan kesembuhan oleh Allah swt, saya gak jadi mati saat itu.  Saya masih hidup sampai sekarang. Sudah 2020 artinya sudah diberi tambahan waktu 4 tahun, Alhamdulillah...

Doa itu spesifik sekali, meminta tambahan usia 10 tahun lagi bukan karena tanpa alasan. Beberapa teman sesama pasien dengan sakit yang sama, dari pengamatan saya saat itu usia terpanjang setelah didiagnosis oleh dokter berkisar 1-8 tahun. Karena saya takut dianggap rakus, jadi saya tambah sampai 10 tahun,  bukannya sampai 30 tahun. Hhihihi.

Seiring berjalannya waktu, doa itu kemudian saya anulir. Bukan menyesal mengapa saat itu hanya meminta 10 tahun saja. Waktu itu, dapat tambahan 3 bulan saja saya bersyukur sekali. Apalagi sampai 10 tahun. Gak ada penyesalan di balik doa, selama itu adalah doa kebaikan. Kini dengan bonus yang berjalan sekitar 4 tahun banyak sekali hal yang saya syukuri. Rezeki kesempatan mengajar kembali, rezeki anak anak sehat ceria bahagia, rezeki suami sabar pengertian dan selalu mau diajak komunikasi produktif, rezeki rumah yang seperti kantor PDAM, rezeki keluarga yang senantiasa dilindungi Allah swt, rezeki teman teman keren dan positif tempat saya menimba ilmu diam-diam. Ya Allah, banyak sekali hal yang seharusnya saya syukuri dan belum sempat saya sadari. Semoga dengan menuliskan seperti ini semakin menambah kesyukuran saya ya Rabb.

Lalu apa yang akan terjadi di tahun 2026 nanti?
Bagaimana jika doa itu betul betul diijabah oleh Allah swt?

Tenang kawan, kematian itu rahasia. Hanya Allah yang tahu waktu pastinya.

Kata seorang guru saya "Jangan takut mati karena semua orang akan mati. Tapi takutlah jika bekal yang kau siapkan sedikit, sedangkan jalan yang akan ditempuh begitu panjang".

Masih ada tersisa waktu 6 tahun untuk selalu memperbaharui doa. .

Doa doa seperti "Ya Allah, panjangkanlah usiaku, hingga bisa melihat anak anak saya memasuki usia baligh, menikah, berketurunan dan mendidik anak anak mereka ya Rabb" 
Atau
"Ya Tuhanku, kumohon usia yang berkah, bermanfaat, panjang hingga bisa memasuki usia pensiun lalu pulang ke kampung halaman mewakafkan diri untuk ummat di tanah kelahiran", masih mendominasi saat-saat berdoa saya.  

Sungguh, doalah yang menguatkan saya. Apalagi Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk berdoa dalam Alquran, ditambah hadist nabi menyatakan bahwa Allah malu kepada hambanya yang menengadahkan tangan kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa.

Berdoalah sebanyak banyaknya wahai teman. Kita tak tahu doa mana yang akan dikabulkan oleh Allah.

Jika berkenan, sisipkanlah nama saya di sepenggal doamu, boleh jadi doa itu adalah doa yang diijabah oleh-Nya.

Jumat, 11 Oktober 2019

Metropolitan pada Pandangan Lantai Sembilan



Pada gemerlap warna warni cahaya
Bersemayam luka dan dendam membara
Dibelai malam dan angin musim kemarau
Berpadu tawa samar pun tangis haru

Pada bising lalu lalang jalanan
Menepi sebentar menengok angkara
Tersemai subur bagai cendawan musim penghujan
Meluap lalu berceceran di sepanjang jalan pusat kota

Pada gelap malam yang membungkus tak sempurna
Ada sedu tergugu di sudut kota
Penuh keluh kesah pada langit
Menganggap penguasa tak lagi merakyat

Wajah metropolitan yang kian renta
Semakin tua, semakin kejam

Kaum cilik semakin mungil hampir tak nampak
Kaum besar makin pongah penuh ambisi
Kaum pelajar kehilangan kata-kata mungkin disumpal
Kaum religius tersisih, terdesak lalu  jadi tersangka
Kaum liberal makin bebas mengepakkan sayap-sayap penuh duri


Dunia..
Penuh tipu muslihat berwujud malaikat
Mungkin kiamat sudah dekat
Mari bergegas
Siapkan bekal menuju akhirat

Senin, 03 Desember 2018

Kemoterapi is Me Time

                        Foto dari www.suttanews.com

Ada yang ngeri-ngeri sedap dengar kata kemoterapi?

Yaah, tenang kita sama kok..
😀😀😀

Awal-awal dengar kata itu auranya gelap, suram, sedih, dan berbagai rasa tak enak lainnya datang menyertai. Terbayang ruangan yang  remang, selang-selang bertaut, tiang infus, dan berbagai pernak-pernik rumahsakit menghiasi imajinasi saya saat itu. Bahkan beberapa kali mencoba menghindar dan meminta alternatif pengobatan lain pada dokter.

Tapi kemo adalah suatu rangkaian terapi yang mau tidak mau harus saya jalani. Jadi saya menyiapkan diri lahir batin menjalaninya.

Sebenarnya bukan kemoterapinya yang 'menyeramkan' sih, tetapi efek samping dari obat-obatan yang masuk dalam proses kemo itu.
Rambut berguguran, mual, muntah, diare berat, tangan dan kuku menghitam, hilang nafsu makan, dan sederet efek yang tidak mengenakkan itulah yang dihindari oleh para pasien kemo.

Itu efek samping negatif ya.
Setelah dipikir-pikir, ternyata ada efek samping positif juga lho dari kemo itu, selain membasmi sel-sel abnormal yang ada dalam tubuh. Lebih hemat shampo, kan rambut dah plontos, apa yang mau dishampoin. Belajar bikin alis, ini bener saya jadi bisa bikin-bikin alis meski tak sejago para mastah yang rajin bikin tutorial di medsos. Selain itu, momen kemoterapi ini saya jadikan me time.

Me time.. Iya, me time...
Saat kemo biasanya saya cuma minta diantar ke RS, pulangnya biasanya pakai jasa ojol. Jarang-jarang kan ibu full time home seperti saya bisa bebas dari intaian 2 krucil yang selalu minta ikut kemana umminya pergi.. 😄

Sambil menikmati tetesan cairan infus yang masuk ke pembuluh vena, saya sambil dengan berselancar di medsos, nonton film, atau bahkan kadang nulis jika ada ide yang tiba berkelebat di kepala.

Alhamdulillah, kemoterapi yg kini saya jalani memungkinkan untuk bisa santai bergerak. Meskipun ada juga kemo terapi yang mengharuskan pasien tenang tidak banyak gerak saat obat kemo masuk. Jadi tergantung obat kemo.

Menjalani kemo standar 6 siklus, ditambah kemo herceptin 8 siklus, dan sekarang menjalani kemo zoffec yang menurut dokter idealnya dilakukan selama 2 tahun. Sekarang ini sudah ditahap kemo zoffec ke-18 kali. Jadi kalau di total sekitar 32 kali kemo sudah saya jalani. Alhamdulillah alaakullihal..

Jadi, buat teman-teman yang saat ini menjalani terapi kemo, yuk semangat sambil dibawa santai. Kemoterapi, radiasi, ataupun kanker bukan akhir dunia kok. Masih banyak yang bisa kita lakukan untuk sekitar kita. Membantu teman sesama pasien, saling berbagi informasi dan sharing, saling support, dan banyak lagi.

Dan buat relawan atau teman-teman yang punya keluarga atau kenalan yang sedang menjalani pengobatan berat (post operasi, kemoterapi, radiasi, hemodialisa, dll) tetap disupport dan didoakan ya. Support sekecil apapun bisa menjadi setitik nyala semangat untuk para penerima anugerah penyakit, dan entah doa dari siapa yang akan diijabah oleh Allah swt.

Salam sehat..

Sabtu, 11 Agustus 2018

Family Camp IP Sulawesi Yang Berkesan



Alhamdulillah akhirnya salah satu kegiatan besar komunitas Ibu Profesional Sulawesi yaitu Family Camp yang mengusung tema "A" Home Team terlaksana juga dengan lancar, aman, dan seruuu...
Hal tersebut tak lepas dari para panitia (bunda Asty koordinator Kids Corner, bunda Hani bagian konsumsi, saya dan Mamasya untuk hitung2an dan jadi tim hore, bunda Odha sebagai pintu komunikasi dengan pusat, Bun Ummi PJ kita yang bertanggung jawab dan tetap mendampingi dan mengawal hingga akhir kegiatan, dan tentu saja Mak Oni (sang leader) yang begitu banyak bantuannya sehingga kegiatan ini bisa berlangsung. Para tim FC inilah yang telah bersusah payah, saling bahu membahu, kerjasama, demi mewujudkan Family Camp yang penuh kesan.
Info behind the scene FC ini bisa dibaca disini.

Kegiatan Family Camp ini bertempat di kota Malino tepatnya Villa Batulapisi, kota yang terkenal dengan kota wisata sejuk dan nyaman buat kemping. Di lokasi villa Batulapisi selain disediakan villa yang cukup besar dengan kapasitas pengunjung bisa sampai 50 orang, juga tersedia lahan luas untuk memasang tenda diantara pohon Pinus, area api unggun, gazebo, beberapa kolam ikan dan arena tracking bagi anak-anak yang memang suka berpetualang.

Selama 2 hari 1 malam kami berkegiatan, berkenalan dan membaur dengan anggota keluarga member IPS. Jumlah peserta yang ikut berjumlah 15 keluarga dari berbagai daerah. Ada dari Palopo, Selayar, Pangkep, dan Makassar. Semuanya rela menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan ilmu dan bekal untuk menjadikan keluarga dengan grade "A".

Ibu Septi  sebagai founder IIP yang didampingi oleh pak Dodik tampil keren membawakan materi2 terkait bagaimana sih membentuk home team dengan kualifikasi "A".

Kegiatan dimulai saat pagi hari sewaktu seluruh peserta telah tiba di lokasi. Kegiatan pembuka berupa perkenalan dan beberapa ice breaking yang dipandu langsung oleh ibu Septi, kemudian diberikan pengantar tentang membangun sebuah keluarga butuh pondasi yang kuat. Setelah jeda sholat dan makan siang, materi ke-2 berlanjut yang dibawakan oleh pak Dodik yang begitu ekspresif dengan tema Home Team dengan kualitas "A". Dan yang membuat peserta kagum sekaligus malu, bapak dan ibu pemateri begitu ontime melaksanakan kegiatan sesuai jadwal yang sudah disepakati berapapun peserta yang siap sedia di kelas.

Sore hari saat selesai istirahat, materi ke 3 berlangsung. Class for friend ini terbagi 4 kelompok. Kelompok 1 bunda Asti yang berbagi ilmu tentang kreasi balon, pak Cawi sharing tentang pengelolaan sampah dan limbah, bunda Rahma berbagi tentang menghafal dengan metode gerak, dan pak Ibrahim yang membagikan ilmu photografi.

Selesai sholat Maghrib dan makan malam, dengan suhu kota Malino yang mulai merayap turun, api unggun pun dinyalakan menambah suasana hangat dan akrab antar sesama peserta. Kegiatan malam ini seharusnya presentasi anak. Namun karena usia anak yang masih kecil-kecil, maka kegiatan diganti dengan games kekompakan keluarga. Keluarga bunda Subaedah berhasil memenangkan games dan dinobatkan sebagai keluarga paling kompak. Yeiiyyyy....
Games ini berhasil menambah semarak dan riuh suara bapak ibu dan anak-anak diantara percik2 api yang beterbangan menuju pucuk-pucuk pinus.

Keesokan harinya setelah selesai sholat subuh, kami menghangatkan badan dengan olahraga pagi dengan senam Maumere. Kemudian lanjut sarapan, mandi, dan bersiap untuk materi ke-3.

Materi ketiga berlangsung di bawah hutan Pinus, beralaskan rumput dan diiringi semilir angin Malino yang sejuk kami dibimbing oleh Bu Sepeti untuk merumuskan formula terbaik untuk membangun sebuah Home Team "A".

Lalu sebagai akhir dari kegiatan kami tim building menyiapkan family fun games yang kemudian dilanjutkan dengan aliran rasa para peserta FC. Disinilah akhirnya terungkap, banyak suami yang 'terjebak' dan akhirnya bersyukur sudah diajak oleh istri untuk bersama-sama membangun keluarga yang Hebat.

Ada 3 kalimat yang jadi mantra para peserta FC.

Banyak ngobrol bareng
Banyak main bareng
Banyak berkegiatan bareng.

Berikut rundown kegiatan kami selama FC.

RUNDOWN FAMILY CAMP  IPS, 9-10 agustus 2018
MALINO

Hari ke 1

*O9.00 - 09.30*
registrasi, pembagian kamar, kelompok anak, pembagian syal pasutri,

*09.30 - 10.00*

ice breaking
Pembukaan family camp. perkenalan pj famcamp dan pembacaan aturan selama di famcamp, prepare masuk materi 1

*10.00 - 12.00*
Dewasa : materi 1
Anak : acara perkenalan, pembagian kelompok, berkegiatan

*12.00-13.30*
ishoma

*13.30   - 15.00*
Dewasa : materi 2
Anak : berkegiatan

*15.00 - 16.00*
istirahat solat ashar

*16.00 - 18.00*

Class for Friend
Anak dan ayah bunda berbagi keahlian/pengalaman/ilmu dengan membuat kelas-kelas kecil, dan yang lain jadi peserta, memilih mau di kelas yg mana.

*18.00 - 20.00*
 ishoma

*20.00 - 21.00*
api unggun , presentase anak (dikasih nama suara anak)

*21.00 - selesai*
Mimipi indah

Hari ke2

*06.00 - 07.00*
 olahraga pagi

*07.00-08.00*
 sarapan

*08.00-10.00*
 Dewasa : materi 3
Anak : berkegiatan

*10.00  - 13.00*
Family fun game
Foto bersama
Aliran rasa
Penutupan

*13.00 - selesai*
Istirahat sholat makan
Sayonara

Sebagai penutup, izinkan kami dari tim FC berterimakasih atas partisipasi para ayah bunda dan memohon maaf sebesar2nya jika sepanjang kegiatan ini banyak kekurangan, ketidakpuasan, dan semacamnya. Semoga kegiatan berikutnya bisa bertemu kembali dan kegiatan dikemas lebih baik dan lebih profesional lagi.

Wassalam.




Behind the Scene Family Camp IP Sulawesi


Saat muncul gagasan akan melaksanakan kegiatan Family Camp dan workshop tahun lalu, saya langsung berdoa. Semoga bisa ikut FC ini, bagaimanapun kondisinya.
Sejak awal tahun sudah mulai sounding ke anggota keluarga, kalau IPS akan mengadakan kemping keluarga. Maka mulailah kami menabung, dan menyusun jadwal.

Alhamdulillah 3 pekan sebelum kegiatan, saat di grup pengurus IPS belum jelas tentang arah kegiatan FC ini, maka kami berinisiatif agar bisa fokus dalam kegiatan FC dengan membentuk tim yang hanya berjumlah 7 orang. Yaa.. lebih baik sedikit tapi mau bekerja, daripada banyak tapi tak maksimal. Begitu yang diajarkan oleh gurunda kami awal2 terbentuknya Komunitas Ibu Profesional.

Maka mulailah para bunda2 ini berpikir dan bertindak demi suksesnya kegiatan FC yang sejak awal digaungkan "dari kita untuk kita oleh kita". Di sela2 kesibukan dan kewajiban utama, Alhamdulillah semua berjalan lancar, meskipun ada sedikit sandungan diawal perencanaan kegiatan.


Bunda mamasty, yang fokus di kids corner dan mengkoordinir tim building, rela membawa hanya 1 anak agar bisa maksimal bekerja. Bersama suami beliau, mereka tampil sebagai sebuah tim, kadang memposisikan diri sebagai peserta, diwaktu lain sebagai pengarah acara. Keren deh mamasty dan pak Agus.
Bunda Hany, yang baru keluar dari RS dan masih dalam proses pemulihan setelah sakit typhoid, menjelang hari-H meluangkan banyak waktu untuk mengkalkulasi dan berkoordinasi dengan pihak katering, dan rumah beliau menjadi salah satu tempat rapat offline terlaksana.
Juga Bunda Dewi alias Mamasya, bumil yang penuh semangat. Meski kondisi naik turun tetap memberikan kontribusi, dan melaksanakan betul tagline berbagi dan melayani.
Lalu bunda Odha, dengan segala keterbatasan beliau karena harus fokus juga sebagai abdi negara yang terbang dari satu daerah ke daerah lain. Tetap meluangkan waktu, membantu tim FC dan sebagai penyambung komunikasi dengan pemateri.
Tak lupa bunda Ummi, yang juga sedang mengalami masa ngidam, memantau dan membantu tim FC melalui wag. Yang berkeinginan kuat untuk hadir di lokasi namun karena suatu hal, akhirnya tidak bisa bergabung. Kami hanya mendoakan, agar diberi kesempatan yang lebih baik lagi untuk menuntut ilmu di lain waktu
Terakhir namun yang paling utama, leader (plt) kami yang tercinta -bunda Maizarah Purnamaningsih- yang melalui beliaulah (sekuntum mawar merah), kegiatan ini bisa berlangsung. Banyak keluarga yang tercerahkan.
Hanya Allah lah sebaik2 pemberi balasan. Semoga sumbangan waktu, energi, ide, support, materi, diganti Allah dengan sebaik2nya. Aamiin...
Dan terakhir sekali ada saya, yang lebih banyak menonton dan mengamati teman2 bekerja, karena terbatasnya kemampuan fisik...
😁😁


Dann... Saya banyak belajar dari bunda2 hebat itu. Belajar bahwa berkomunitas/organisasi itu bukan hanya agar mendapatkan apa dibutuhkan, namun juga bisa berbagi apa yang dimiliki.

Semoga kegiatan berikutnya kita masih bisa bergabung untuk berbagi dan melayani.

Big hug buat tim FC...😍😍😍😘😘😘



Kamis, 26 Juli 2018

Pekan Pertama di Kelas 3

10 Impian Aira

Alhamdulilah tahun pelajaran baru telah dimulai. Aira Alhamdulillah sukses naik kelas 3 dengan nilai yg Alhamdulillah memuaskan meskipun menjalani HS di semester genapnya.

Saat libur kemarin yang lumayan lama, kami sudah sering mendiskusikan tentang kelanjutan proses homeschooling. Aira kekeuh lanjut Homeschooling. Dia senang, saya yang galau.

Galau berat...
Mengapa..?

Saat menjelang ujian kenaikan kelas, kami (baca saya) seperti ngebut. Kejar tugas-tugas dan materi yg belum tuntas di buku pelajaran. Itu berimbas pada Aira yang kewalahan dengan begitu banyaknya instruksi yg saya berikan. Saat ujian berlalu pun masih sering nanya ke ustazahnya, adakah mapel yang remedial ustazah?

Dannn... Itu membuat stress ternyata.. fyuhh..
Tujuan kegiatan HS kan bukan semata-mata nilai kan ya.. Tapi ada hal penting yang ingin kita capai sesuai dengan kondisi keluarga masing-masing homeschooler.

Dannn... Kejadian itu berulang lagi di pekan pertama sekolah ini.
Sy dengan semangat 45 menyiapkan jadwal harian Aira, jadwal belajar pekanan, dan sederet jadwal2 yang tertempel rapi di dinding kreasi kami. Ekspektasi saya yg tinggi, rupanya tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Saya yang berharap Aira bisa disiplin menjalankan kegiatan yg sdh tertera dijadwal, mencapai target, dll. Ternyata kenyataannya Aira capek, mengeluh, dan malas-malasan melaksanakan jadwal kegiatan belajar yg sdh sy susun, padahal baru sepekan ini. Ada apa???

Akhirnya sy cooling down. Konsultasi dengan teman sesama homeschooler. Akhirnya ketemu deh asal muasalnya.

Lagi2 penyakit semester lalu menyerang saya.. hihihi...

Saya merasa, Aira harus kejar target, mengapa? Karena -dalam pikiran saya- teman2nya di sekolah pasti belajar dengan sungguh2. Pelajaran mereka pasti sudah jauh. Dan akhirnya sy forsir Aira untuk tancap gas juga, padahal baru juga sepekan.

Akhirnya kemarin malam kami diskusi kembali.
"Bagaimana dengan jadwal belajarnya kk?"
"Capek ummi, banyak sekali hafalannya.."
"Aira suka tidak dng jadwal itu?
"Gak Ummi"
"Oke, kalau begitu tolong itu jadwal dicabut semua, nanti kita bikin yang baru sesuai dengan yang Aira suka."

Aira lalu tersenyum..

Selasa, 05 Juni 2018

Syukur


Hari ini jadwal kemo saya yang ke-6. Kebetulan teman sekamar saya ibu paruh baya dari kota Kendari yang sudah beberapa kali ketemu di ruang poli.
Namun sepertinya kondisinya semakin berat. Beberapa kali dia beristighfar dengan suara tinggi, dan diikuti dengan bahasa daerah yang artinya kurang lebih seperti ini "aduh, sakit sekali ya Allah..."

Saya yang mendengarnya seolah bisa membayangkan sakit yang dideritanya. Sama seperti kisah2 pejuang kanker yang sering saya baca, berjuang untuk menikmati tiap sapaan rasa sakit itu. Saya kemudian bersyukur, banyak2 bersyukur malah. Dengan kondisi yg hampir sama alhamdulillah sy tidak lagi merasakan sakit seperti yang dirasakan ibu sekamar saya.

Saya sangat bersyukur masih diberi fisik yang kuat minimal untuk menemani anak-anak bermain. Saya sangat bersyukur, sakit yg saya rasakan masih berada diambang batas yg bisa saya nikmati.

Proses kemo ini juga merupakan kemo ke-6 yang merupakan kemo terakhir dari proses kemo standar yang dijadwalkan oleh dokter.
Alhamdulillah semua sukses dilewati, meskipun pernah beberapa kali thrombosit dan leukosit turun yang mengharuskan transfusi darah ataupun suntik obat leukogen yang rasanya nyeri nyeri sedap. Hehehe...

Semua hal yang berkaitan dengan sakit ini sepatutnya saya syukuri.
Bagaimana tidak, sakit itu menggugurkan dosa. Sedangkan dosa saya segunung, bahkan lebih malah. Semoga sakit ini bisa mengurangi tumpukan dosa saya yang kian hari kian bertambah.
Pun menambah kesyukuran saya, bahwa sungguh, nikmat Allah itu sangat banyak. Udara, panca indera, anak-anak, keluarga, semuanya kadang sy luput untuk syukuri dan hanya fokus melihat sakit yang diderita.

Mari bersyukur...
Alhamdulillah...



#Tulisan 6 bulan lalu
#latepost